Arsip Kategori: Artikel SEJARAH

Trowulan Mojokerto , Apocalypto Majapahit


image

Akhirnya kesampaian juga. Menelusuri Trowulan, Kota yang diyakini terpendam di dalamnya perdaban Majapahit. Dalam berbagai prasasti, Trowulan disebut Antarwulan, Kotaraja Majapahit.

Berjalan pelan dengan Yamaha Byson menelusuri jalan. Lha kok saya ngelamun jadi Bahubaali, Raja Maheswari dari India yang bertamu ke tanah Jawa.
Baca lebih lanjut

Soegoro Atmoprasodjo, Sang Pencetus IRIAN JAYA


image

Soegoro Atmoprasodjo. Foto: wiki

Bumi Papua pernah menyandang nama  “Irian Jaya”. Lalu diubah menjadi Provinsi Papua oleh Presiden Gus Dur. Sedang di bagian ” kepala” pulau tetap memakai nama Irian Jaya Barat sampai tahun 2007 diganti menjadi Papua Barat.

Sedih juga sob ditinggal mati nama “Irian”. Nama tersebut bukan berasal dari Presiden Soekarno ataupun Soeharto. Tapi dari Soegoro Atmoprasodjo, orang pertama yg mengenalkan nasionalisme Indonesia pada putra Papua.

Baca lebih lanjut

HOS Cokroaminoto, Warok Ponorogo si Raja Jawa Tanpa Mahkota. Tapi Dilupakan oleh Wong Ponorogo


Cokroaminoto_1

Siapa tokoh paling terkenal di Ponorogo selain Bathoro Katong? jawabnya jelas Markum Singodimedjo. Mantan bupati Ponorogo ini, namanya diabadikan dalam Gedung Olahraga Raga/GOR yang megah mengalahkan nama HOS Cokroaminoto.

Padahal siapa dan apa jasa Mbah Markum dibandingkan Tjokroaminoto? Woo jelas berjasa, lha wong bisa membuat Jalan Baru Pramuka yang enak buat nongkrong. :mrgreen: Memalukan, itulah satu kata bagi Pemkab Ponorogo.

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto yang lebih dikenal sebagai HOS Cokroaminoto lahir di desa Tegalsari, Ponorogo. Putra dari R.M. Tjokroamiseno, seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, adalah Bupati Ponorogo. Wareng dari Kyai Muhammad Besari. Baca lebih lanjut

Politik Soekarno dan IMF, Mewariskan Inflasi Abadi Bagi Indonesia.


image

Saat menyebut IMF, maka serta merta ingatan banyak orang tertuju pada mantan Presiden Soeharto. Seakan-akan Indonesia digadaikan olehnya pada IMF.

Sejatinya, Presiden Soekarno lah yang telah menggadaikan Indonesia pada IMF. Indonesia memasukkan lamaran menjadi anggota pada 15 Agustus 1952. Kemudian resmi menjadi anggota tahun 1953, atas permintaan Presiden Soekarno melalu menteri keuangan Sutikno. Secara legal, keanggotaan itu disahkan dengan UU No 5/1954.
Baca lebih lanjut

Candi Cetho Tempat Brawijaya Moksa, Saat Gelap Berawan Malah semakin Eksotis


cetho

Candi Cetho adalah salah satu candi terindah di pulau jawa. Candi yang dibangun pada masa akhir kerajaan Majapahit ini sampai sekarang masih difungsikan sebagai tempat beribadah.

Lokasi candi yang berada di salah satu puncak pegunungan Gunung Lawu ini memang sangat menawan pemandangan alamnya. Bahkan ketika mendung gelap berawan menggelayut di langit, pemandangan di Candi tempat Brawijaya wafat ini semakin eksotis.

candi cetho1

Alkisah, saat Prabu Brawijaya V terguling dari tahta Majapahit beliau berhasil selamat dari pemberontakan Adipati Daha, Ranawijaya. Trowulan Ibukota Majapahit luluh lantak akibat serbuan itu, menghabisi riwayat kegemilangan Kerajaan Majapahit.

Dari kota Daha tempat Ranawijaya bertahta, putra menantu Brawijaya ini masih mengklaim sebagai penerus Majapahit. Tapi rakyat memandangnya tak patut duduk lagi di atas singgasana suci keturunan Wangsa Rajasa.

Dengan bantuan prajurit tersisa, Brawijaya berhasil selamat melarikan diri sembari memandang asap api menghanguskan kebesaran Istana Trowulan. Setiba di Kedaton Giri, wilayah persekutuan Demak, beliau langsung disambut para pengungsi dan pembesar giri untuk dihantar menghadap Sunan Giri.

Raden Fatah sang Raja Perseketuan Demak, putra beliau dari selir putri Cina Tan Go Hwat, telah menerima kabar kekalahan sang Ayahanda dan berkehendak untuk menjemput sendiri beliau di Kedaton Giri dengan kapal tercepat dari Demak.

Pertemuan ayah dan sang anak terbuang ini mengharukan Istana Giri. Raden Fatah meminta sang Ayah untuk menemaninya ke Demak dan menjadi penasehat di sisinya.

Hal ini bertentangan dengan keyakinan Brawijaya, tak sepatutnya seorang raja yang kalah dan melarikan diri medan perang menjadi tamu di sebuah kerajaan yang damai. Dia takut nasib buruknya akan menjadi karma bagi keturunan Fatah dan kelangsungan Kerajaanya. Beliau ingin mengabdikan diri sebagai resi untuk sisa hidupnya seperti halnya Airlangga dalam pelarian.

Setelah bermusyawarah dengan para sunan di wilayah Demak, Raden Fatah memilih lereng sebelah barat Gunung Lawu sebagai tanah perdikan bagi Ayahnya dan semua pengungsi Majapahit yang ingin tetap mempertahankan keyakinan agamanya. Tanah perdikan itu kemudian dikenal sebagai Karanganyar, atau desa baru.

Sebuah surat juga dikirim ke Daha, berisi sebuah peringatan bagi iparnya Ranawijaya. Bahwa Brawijaya dan tanahnya berada dalam perlindungan Demak setiap usaha penyerbuan berarti perang terhadap Demak.

Di tempat tersebut para pengikut Brawijaya tetap hidup dengan ajaran dan budaya Majapahit. Sebagai bentuk doa pada yang Maha Kuasa untuk menghentikan segala konflik di Tanah Jawa dan Keturunanya. Brawijaya membangun dua candi, Sukuh dan Cetho yang dipersembahkan pada Wishnu untuk memohon petunjuk atas segala bala yang sedang terjadi di Jawa.

candi cetho2

Noted: Kisah diatas bukan teori sejarah, tapi bagian dari Novel Perang Jawa yang masih saya edit. 😉 maklum masih belajar nulis jadi sering ditolak penerbit dan harus diedit.

Goa Selomangleng, Peninggalan Peradaban Tinggi Yang Tak Dilestarikan Serius


Di dunia ini, salah satu peradaban kuno yang paling menakjubkan adalah memahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal, baik istana, rumah atau tempat ibadah. Salah satu goa buatan manusia yang terkenal adalah Petra di Yordania. Kemasyhuran Petra menyebabkan dia terpilih jadi satu dari 7 keajaiban dunia versi voting 7wonders.

Padahal, Petra sebenarnya biasa saja bila dibandingkan dua goa buatan manusia di India, yaitu Ayanta dan Ellora. Petra memang menakjubkan dari luar, tapi di dalamnya miskin interior. Berbeda dengan Ayanta dan Ellora yang di bagian dalam goa penuh dengan pahatan relief, lukisan kuno, tiang-tiang yang dipahat dari stalagmit dan stalagtit, ruangan-ruangan yang memiliki interior artistik dengan hiasan air terjun indah. Berikut ini perbandingan tiga bangunan pahatan goa manusia, untuk lebih lengkap tentang interior Ellora dan Ajanta silahkan gogling ya 😉

Bagaimana dengan di Indonesia? apakah leluhur Nusantara zaman dulu juga pernah memiliki peradaban memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal? Iya ada. Peradaban Nusantara juga pernah mengenal hal yang semacam ini. Peradaban di Indonesia sangat erat dipengaruhi Tanah India, tentu ada Goa Ajanta dan Ellora versi Nusantara.

Di Jawa Timur, jejak peradaban ini ada di Tulungagung dan Kediri dengan nama yang sama, Goa Selomangleng. Di Tulungagung berada di desa Sanggrahan kecamatan Boyolangu. Sedangkan di Kediri terdapat di Kecamatan Mojoroto, di seberang jalan Universitas Kadiri.

Nasib dua situs hampir sama, tak ada upaya pelestarian dari pihak terkait. Nasib Goa di Kediri malah mengenaskan karena di sekitar goa malah dibangun bangunan modern seperti waterboom. Ini sudah ciri khas kebijakan pemerintah dalam melestarikan bangunan cagar, bukanya merestorasi sesuai bentuk bangunan asli, tapi malah membangun bangunan modern di sekitar maupun di atas situs purbakala.

Jadi teringat celotahan teman, andai Borobudur bukan Belanda yang merestorasi, mungkin pemerintah bakal lebih memilih membangun tugu monas di teras tertinggi daripada merestorasi stupa. :mrgreen:

Perhatian pemangku kebijakan hanya ala kadarnya saja dan yang terjadi malah sebaliknya. Kawasan Selomangleng sekarang ini justru lebih diriuhkan oleh berbagai macam kegiatan yang tidak hanya akan mengurangi respek masyarakat terhadap keberadaan si situs, namun juga mengancam keaslian dan keutuhannya.

Keberadaan tempat hiburan (kolam renang, panggung hiburan dan sejenisnya) yang dibangun secara permanen hanya beberapa belas meter dari situs, beberapa patung yang lenyap dan ditambal secara serampangan dengan menggunakan semen merupakan bukti nyata ancaman tersebut. Walaupun tidak jauh dari lokasi tersebut berdiri museum, namun keberadaannya hanya sekedar memajang patung dari berbagai penjuru Kediri.

Selomangleng seharusnya memberikan kebanggan pada pengunjungnya tentang tingginya peradaban Nusantara yang pernah dibangun oleh Wangsa Airlangga.

Saya masih menaruh curiga bahwa di perbukitan Selomangleng masih tersimpan goa-goa buatan manusia lainya yang lebih besar ukuranya. Berikut galery foto relief Goa Selomangleng yang awalnya indah dan artistik tapi sekarang banyak mengalami kerusakan

Sungguh menyedihkan melihat peninggalan sejarah yang terbengkalai tanpa ada upaya merestorasi atau menjaga apa yang masih tersisa.

Arca Amoghapasa, Hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja Raja Melayu


arca 1

Arca Amoghapasa yang sekarang tersimpan di Museum Nasional, jakarta adalah arca hadiah dari Kertanagara raja Singhasari kepada Tribhuwanaraja raja Melayu di Dharmasraya, Sumatera pada tahun 1286. Di bawah arca terdapat lapik yang dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuna, dan memakai dua bahasa (Melayu Kuna dan Sanskerta). Isi dari tulisan tersebut adalah sebagaimana yang diterjemahkan oleh Prof. Slamet Muljana adalah :

Bahagia ! Pada tahun Śaka 1208[2], bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya …
…. tatkalai itulah arca paduka Amoghapāśa lokeśwara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata dibawa dari bhūmi jāwa ke swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di dharmmāśraya,
sebagai hadiah śrī wiśwarūpa kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka śrī mahārājādhirāja kṛtanagara wikrama dharmmottunggadewa memerintahkan rakryān mahā-mantri dyah adwayabrahma, rakryān śirīkan dyah sugatabrahma dan
samagat payānan hań dīpankaradāsa, rakryān damun pu wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di bhūmi mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, śrī mahārāja śrīmat tribhuwanarāja mauliwarmmadewa.

Glangglang Ing Bhumi Ngurawan, Miniatur Kemegahan Istana Khadiri di Bumi Madiun


Eksistensi kerajaan Glangglang sudah tak diragukan lagi oleh para sejarawan. Keberadaanya telah tercatat dalam berbagai prasasti sejarah dan karya sastra para pujangga. Misalnya yang tercatat dalam serat centini dan cerita Panji Malat, berikut saya kutipkan beserta ulasanya dari rekan Novi (dari skripsi sarjananya) seorang peneliti di Kompas Madya (Historia Van Madiun),:

Serat Centini
Cerita Centini memberikan petunjuk yang jelas tentang lokasi Gegelang, ketika Panji mengabdi kepada Raja Gegelang. Sesudah rombongan Raden Jayengresmi, Jayengraga, Kulawirya dan Nurripin sampai di Memenang, Kediri. Kemudian mereka bermalam di pelabuhan, di tepi Brantas sebelah timur. Pada keesokan harinya, mereka menyeberangi sungai dengan sebuah perahu tambangan dan menuju ke Gunung Klotok, di Gua Selomangleng. Ketika hendak meneruskan perjalanan dari Gua Selomangleng, mereka menanyakan jalan menuju Gegelang. Mereka mendapatkan jawaban, bahwa Gegelang masih jauh. perlu tiga hari lagi perjalanan dari Gua Selomangleng. Menyusuri kaki Gunung Wilis di sebelah utara, kemudian berjalan ke barat mengelilingi gunung (Wilis) (Poerbatjaraka,1968: 373).

Daerah-Daerah di sebelah barat Gunung Wilis adalah daerah Karesidenan Madiun. Oleh karena itu, pelokalisasian Gegelang atau Glang-Glang di Madiun tidaklah bertentangan dengan informasi dalam Serat Centini. Selain itu, dalam cerita Panji Malat disebutkan juga tentang orang-orang Pagutan yang kaget atas kedatangan orang-orang Melayu ke wilayah Gegelang (Poerbatjaraka, 1968: 315). Dari sinilah Poerbatjaraka mengidentifikasi Glang-Glang sama dengan Pagutan, yang sekarang menjadi Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Tapi studi sejarah selanjutnya menemukan, bahwa Pagutan adalah bagian dari kekuasaan Glangglang, sedang pusat pemerintahanya ada di Ngurawan, Dolopo, Madiun yang berjarak 6KM dari Pagotan.

Nama Glangglang juga disebut dalam naskah Bujang Manik sebagai berikut ini.
Ka kéncan jajahan Demak,
Ti wétan na Welahulu.
Ngalalaring ka Pulutan,
Datang ka Medang Kamulan.
Sacu(n)duk ka Rabut Jalu,
Ngalalaring ka Larangan
Sadatang aing ka Jempar,
Meu(n)tasing di Ciwuluyu,
Cu(n)duk ka lurah Gegelang,
Ti kidul Medang Kamulan,

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Ke sebelah kiri wilayah Demak,
Di timurnya Gunung Welahulu.
Aku berjalan lewat Pulutan,
Datang ke Medang Kamulan.
Setibanya ke Rabut Jalu,
Aku berjalan lewat Larangan.
Sesampainya aku ke Jempur,
Kuseberangi sungai Ciwuluyu.
Sampai ke daerah Gegelang,
Sebelah selatan Medang Kamulan.
(Noorduyn & Teeuw, 2009: 297).

Lalu seperti apa kemegahan Istana Glangglang tersebut?
Jayakatwang sang raja menyadari betul bahwa dirinya adalah keturunan dari Wangsa Airlangga yang masih keturunan Wangsa Isnaya dan Syailendra. Karenanya dia berusaha meng-copy kemegahan Istana Khadiri di Istana Glangglang tempatnya bertahta. Salah satunya adalah taman Ganter, salah satu kompleks wilayah Ibukota Kediri yang monumental.

Sendang Ganter

Sendang Ganter berada di lembah blok Ganter, Dukuh Krajan, Desa Doho, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Sekitar 200 m sebelah selatan sendang. ini terdapat Sendang Petrukan yang lebih kecil ukurannya. Kedua sendang tersebut berada pada sebuah lembah yang lebih rendah dari tanah yang ada di barat dan timurnya.

Nama Ganter mengingatkan pada peristiwa runtuhnya kekuasaan Raja Kķtajaya dari Kerajaan Pañjalu karena serangan Kerajaan Tumapel. Pararaton menceritakan pertempuran Ganter sebagaimana berikut:

“…….Samangka ta sanjata ing Tumapel acucuh lawan sanjata Daha, aprang loring Ganter, apagut sama prawira, anglongi linongan, katitihan sanjata Daha………………….
Irika ta sanjata Daha bubar tawon, pungkur wedus, sahut paying,tan hana pulih manih. S
amangka ta siraji Dandang gendis murud saking paprangan, angungsi maring dewalaya………”

Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

“………sekarang tentara Tumapel bertempur melawan tentara Daha, berperang di sebelah utara Ganter, bertemu sama-sama berani, bunuh membunuh, terdesaklah pasukan Daha………………..
Sekarang tentara Daha terpaksa lari, karena yang menjadi inti kekuatan perang telah kalah.
Maka tentara Daha bubar seperti lebah, lari terbirit-birit meninggalkan musuh seperti kambing, mencabut semua payung-payungnya, tak ada yang mengadakan perlawanan lagi. Maka Raja Dandanggendis mundur dari pertempuran, mengungsi ke alam dewa……..” (Padmapuspita, 1966: 22-23 dan 64).

Ganter memiliki arti ” taman” (Zoetmulder, 1995: 273). Jadi peristiwa pada tahun 1144 Saka /1222 M yang disebut “aprang loring Ganter” dapat diartikan dengan “bertempur di sebelah utara taman”. Lokasi Ganter yang berada di nagara Daha, sesuai dengan lokasi Sendang Ganter yang berada di wilayah Doho, Dolopo, Madiun.

Namun, bukanlah nagara Daha itu sama dengan Desa Doho ini. Lokasi nagara Daha berada di wilayah Kabupaten Kediri. Sedangkan keberadaan toponimi “nagara Daha” dengan Desa Doho di Madiun, dapat ditafsirkan sebagai upaya pemindahan kosmologi oleh keturunan Raja Kķtajaya dari Kadiri. Hal ini mirip dengan upaya pemindahan kosmologi Hindu, dengan cara memindahkan puncak Gunung Meru dari tanah India ke Pulau Jawa yang diceritakan dalam Kitab Tantupanggelaran.

Lokasi Sendang Ganter berada di utara Dukuh Ngrawan. Jadi, jika diasumsikan keraton Glangglang berada di Dukuh Ngrawan, maka Ganter adalah taman kerajaan yang ada di sebelah utara. Taman (ganter) berupa sumber mata air yang disebut sendang. sesuai dengan cerita Malat yang menyebutkan, bahwa tokoh Panji saat menghamba di Kerajaan Gegelang pada suatu hari pergi menuju Ganter untuk menangkap ikan (Poerbatjaraka, 1968: 337). Tentunya menangkap ikan haruslah berada di daerah berair. Hal ini sesuai dengan keberadaan Sendang Ganter yang berada di utara bekas ibukota Glang-Glang.

 

 

Situs Watu Dukun Ponorogo, Peninggalan Raja Airlangga dan Dharmawangsa


Puhpelem wonogiri pagerukir ponorogo (56)

Ponorogo pada zaman dahulu disebut dengan nama Wengker. Dalam berbagai prasasti nama Wengker kerap disebut telah ditaklukan dan biasanya disertai dengan penyebutan nama rajanya. Seperti prasasti Kamaglyan yang menceritakan kisah kemenangan Raja Airlangga atas Wijayawarma Raja Wengker bekas sekutunya bertahun 1006M.

Salah satu daerah yang kaya dengan peninggalan purbakala adalah kecamatan Sampung, di lereng selatan pegunungan Lawu. Daerah diyakini beberapa sejarawan sebagai Ibukota ketiga kerajaan Medang. Yang pertama berada di wilayah lereng Merapi, lalu pindah ke Wwatan Madiun. Kemudian pindah lagi ke Medang-Sampung ketika Wwatan-Madiun diserang Sriwijaya saat pesta pernikahan Airlangga dan Rajanya Dharmawangsa mati terbunuh.

watu dukun redmi (1)topografi bumi sampung

Sebagai Ibukota pelarian, wilayah dataran tinggi Sampung ini sangat cocok. Karena tanahnya subur dan kaya sumber mata air alami serta dikelilingi pegunungan yang menjadi benteng utama. Persis seperti Maccu Picchu di Peru. 😉

Salah satu situs warisan kerajaan Medang adalah Watu Dukun yang terletak di desa Pagerukir, Sampung. Sasaran paling mudah bila ingin kesini adalah mencari dulu SMPN 2 Sampung, dari SMP tersebut hanya berjarak 1 KM. Jangan seperti saya yang muteri gunung ke Puhpelem Wonogiri dulu. :mrgreen: atau paling mudah adalah dari Badegan, sebelum polsek belok kanan bila dari arah PO.

watu dukun redmi (8)

Situs ini terdiri dari : balok altar (meja) dan 4 batu kursi, batu salju, sendang watu dukun, batu berudak, batu suci, serta batu menyerupai ranjang itu, lalu tugu menhir dengan tulisan huruf pallawa. Beberapa dugaan menyebutkan bahwa situs ini adalah peninggalan era Dharmawangsa Raja Medang sekaligus mertua Airlangga. Sedangkan pendapat lainya menyatakan bahwa ini adalah tempat Airlangga mengasingkan diri setelah kerajaan mertuanya hancur diserbu Sriwijaya.

Dalam serangan itu, Dharmawangsa Teguh tewas, sedangkan Airlangga lolos melarikan diri ke hutan pegunungan (wanagiri) ditemani pembantunya yang bernama Mpu Narotama, Pagerukir inilah yang diyakini sebagai w . Saat itu ia berusia 16 tahun, dan mulai menjalani hidup sebagai pertapa. Setelah tiga tahun hidup di hutan, Airlangga didatangi utusan rakyat yang memintanya supaya membangun kembali Kerajaan Medang. Airlangga kemudian sukses membangun kerajaan baru bernama Kahuripan.

Situs ini berada di sebuah kaki bukit, sepertinya asal muasal benda-benda tersebut adalah di atas bukit lalu diturunkan. Bukin yang berada di belakang situs juga cukup aneh struktur bebatuanya persis seperti pundek berundak di gunung padang. Apakah di dalamnya ada bangunan yang terkubur? entahlah

 

Di seberang jalan situs ini ada sebuah sumber mata air dua warna dua kolam. Ini yang sangat saya sesali, kenapa enggak bawa celana kolor atau sarung, cuma bisa ngilerr meredam hawa nafsu untuk kungkum. :mrgreen:

Adapun berdasarkan cerita rakyat, semasa pengembaraan Airlangga bersama Mpu Narotama. Keduanya berguru ke seorang empu yang sangat tersohor yaitu Empu Bharada. Di Situs Pager Ukir inilah Airlangga digembleng ilmu jaya wijaya dan ilmu kanuragan. Hingga akhirnya Airlangga lulus dan diberi gelar oleh gurunya sebagai Prabu Kelono Sewandono sedangkan Narotama berganti nama menjadi Pujanggo Anom.

Kedua tokoh nama Kelono Sewandono dan Pujonggo Anom merupakan tokoh yang digambarkan dalam kesenian reog Ponorogo, yaitu gambaran seorang Satriya yang sakti mandara guna dan berperilaku baik.

Nagh sobat selain situs ini apalagi yang bisa kita dapat dari perjalanan wisata ini?, adalah pemandangan alam. Selepas dari situs ini anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Puh Pelem Wonogiri, bisa menyusuri jalanan beraspal dengan suasana hutan alam yang asri dan hawa dingin khas pegunungan. Atau yang lebih eksotis lagi menelusuri jalanan setapak pedesaan yang sudah dicor beton. Jangan takut tersesat toh masih di tanah Indonesia kok. 😉 selamat berkelana.

Berikut liputan jalur eksotis tersebut 😉

Riding Report, Rute Puhpelem Wonogiri-Pagerukir Ponorogo, Serasa Kembali ke Masa Lalu

 

 

 

 

Candi Sukuh, Kisah Avatar Wisnu dalam Piramida Jawa yang Eksotis


candi sukuh

Candi sukuh yang terletak di Karanganyar, Jawa Tengah memang sangat menarik dikunjungi. Pesona utama dari candi ini adalah arsitekturnya yang mirip dengan Piramida suku Indian Incha di Amerika Latin. Karenanya tak sedikit yang mengklaim bahwa Candi ini adalah bukti pengaruh orang India Latin pada peradaban Jawa. Klaim demikian biasanya karena yang bersangkutan tidak faham Ajaran Hindu Wishnu.

Kehidupan beragama di pulau Jawa selama di bawah pemerintahan Wangsa Syailendra sampai Wangsa Airlangga yang masih satu garis keturunan, didominasi oleh ajaran Hindu beraliran Wishnu. Aliran ini meyakini bahwa Dewa Wishnu telah dan akan turun ke muka bumi dalam wujud 10 avatar atau makhluk.

Di antara 10 avatar itu adalah Budha Gautama, maka tidak mengherankan bila semasa Mataram Kuno, Ajaran Budha dan Hindu diakomodir dan dibangunkan tempat peribadatan monumental oleh kerajaan, seperti Prambanan dan Borobudur. Karena ajaran Budha adalah juga ajaran Wishnu.

Candi Sukuh dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit dengan corak utama permujaan pada Wishnu dalam wujud avatar Kurma atau Kura-kura. Sebenarnya cukup aneh juga karena candi-candi Majapahit biasanya lebih bercorak Hindu Siwa dibanding Wishnu. Tapi bila melihat kerusakan tatanan sosial politik pada era tersebut yang dipenuhi kekacauan dan huru-hara bisa dimaklumi.

Dalam kepercayaan Hindu Wishnu, Wishnu adalah dewa yang utama. Bahkan Brahma dan Siwa pun adalah hanya avatar dari Wishnu sang dewa utama (ada episode little Krisna tentang Brahma yang menerangkan ini). dari 10 avatar Wishnu, ada yang hidup abadi yaitu Paramasura, karenanya, Paramasura juga berjumpa dengan dua avatar wisnu lainya yang hidup setelahnya, Yaitu Rama dan Basudewa Krisna..

Manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela,
pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia,
wahai keturunan Bharata (ucapan ini ditujukan pada Arjuna).
Untuk menyelamatkan orang-orang saleh
dan membinasakan orang jahat
dan menegakkan kembali kebenaran,
Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman.
(Bhagavadgita)

Tujuan dibangunya Candi Sukuh adalah bentuk permohonan pada Dewa Wishnu untuk meminta petunjuk untuk menyelesaikan masalah yang ada. Tema Avatar Wishnu yang diangkat di candi ini adalah dalam bentuk kura-kura yang disebut Kurma. Kurma adalah Avatar wisnu yang kedua, hidup pada zaman tetrayuga.

Menurut berbagai kitab Purana, Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura (kurma) dan mengapung di lautan susu Kserarnawa. Di dasar laut tersebut konon terdapat harta karun dan tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para Dewa dan Asura berlomba-lomba mendapatkannya. Untuk mengaduk laut tersebut, mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan untuk mengaduknya. Para Dewa dan para Asura mengikat gunung tersebut dengan naga Wasuki dan memutar gunung tersebut. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil didapat oleh Dewa Wishnu dan menjadi sebab kehidupan abadi para dewa. Sedang para Asura(Raksasa) mereka mati terkena bisa dan api Naga Wasuki.

Candi sukuh adalah penggambaran total dari kisah avatar kurma ini. Di depan candi terdapat Arca kura-kura Raksasa bentuk penggambaran avatar Wishnu. Sedang bentuk piramida candi adalah penggambaran dari gunung Mandara. Di depan candi ada kolam yang merupakan penggambaran lautan susu Kserarnawa.

Di tengah kolam Kserarnawa terdapat sebuah patung yang memegang Lingga, ini adalah simbol Siwa yang merelakan diri menyerap semua racun lautan Kserarnawa sebelum tirta amerta muncul sehingga lehernya menjadi biru. Juga ada simbol Siwa lainya (Lingga-Yoni) di pintu gerbang.

candi sukuh

Adapun dua patung garuda di depan bangunan utama dan sebuah kendi, itu adalah perumpaan dari Sang Garuda dan ibunya Sang Winata. Semasa menetas dari telur, Sang Garuda mendapati ibunya diperbudak oleh Para Naga karena dicurangi dalam menebak warna kuda Uccaihsrawa yang keluar dari gunung Mandara karena dicurangi. Para Naga bersedia melepas Sang Winata bila Sang Garuda bisa mencuri tirta Amerta dari Dewa Wishnu.

Sang Garuda menyanggupinya, tapi niat baik dengan jalan yang tidak benar itu diketahui oleh Wisnu. Dia lalu menawarkan pada Sang Garuda agar bersedia menjadi kendaraanya dan berjanji akan membebaskan ibunya dari para naga.

Sedangkan pada relief hanya dikisahkan tentang Nakula dan Sadewa dari 5 pandawa. Lagi-lagi ini adalah bentuk doa agar muncul tokoh seperti Nakula dan Sadewa yang mampu menyembuhkan segala macam penyakit karena memiliki Banyu Panguripan atau “Air kehidupan” pemberian Batara Indra.

Intisarinya, Candi Sukuh dibangun pada masa akhir Majapahit sebagai doa dan harapan akan turunya pertolongan Wisnu untuk menyelesaikan segala karut marut persoalan yang ada di Majapahit. Berdasarkan candrasangkala candi yang berbunyi gajah wiku anahut buntut yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi sebagai tahun pendirian candi ini

 

pakrtduett

Candi sukuh adalah murni karya nenek moyang kita, jangan lagi disangkut pautkan atau malah dituduh meng-copy bangunan piramida di Mesir atau Inca Meksiko Amerika Selatan. Atau hal paling konyol tuduhan bahwa candi ini dibangun oleh alien, makhluq luar angkasa. Ini adalah warisan leluhur kita, karya yang menakjubkan, patut kita jaga dan lestarikan. 😉

Merekonstruksi Profil Prabu Jayakatwang, Raja Agung yang sering ditulis sebagai Tokoh Jahat


jayakatwang
Prabu Jayakatwang adalah yang pertama memakai panji merah putih

Prabu Jayakatwang adalah raja terakhir dari Kerajaan Kediri yang silsilahnya kakek moyang bertaut pada raja-raja Agung Wangsa Airlangga dan Syailendra seperti Jayabaya, Airlangga, Dharmawangsa, Isnaya (Mpu Sendok) dan Sanjaya yang diantara penginggalanya adalah Borobudur dan Prambanan. Dia adalah cucu dari Raja Kertajaya, raja Kediri yang dibunuh oleh Ken Arok yang lalu mencoba mendirikan Kerajaan baru bernama Singosari di atas runtuhan Kediri.

Ken Arok adalah anak seorang kusir yang ayahnya mati terbunuh ketika dia masih dalam kandungan Ibunya. Ketika dia lahir, ibunya tidak berminat mengasuhnya karena hendak menikah lagi, sehingga Ken Arok bayi dibuang di area pemakaman lalu dipungut dan diasuh sebagai anak oleh pencuri bernama Lembong.

Ken Arok lalu tumbuh menjadi berandalan dan menjadi perampok paling ditakuti di wilayah kerajaan Kediri. Dia lalu bersahabat dengan putra Tunggul Ametung, akuwu/camat wilayah Tumapel bawahan Kediri. Karena tertarik pada istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Dengan siasat keris pusaka Mpu Gandring, Ken Arok sukses membunuh Tunggul Ametung, lalu menjadi penguasa Tumapel kemudian menggulingkan kekuasaan.

Keberhasilan suksesi berdarah ini karena dirinya didukung oleh seorang Brahmana Siwa asal India bernama Lohgawe yang memaklumatkan pada rakyat bahwa Ken Arok adalah avatar Dewa Siwa. Berkat kampanye Lohgawe ini, Ken Arok berhasil merebut simpati kaum Brahmana lalu mendeklarasikan Tumapel merdeka dari Kediri. Sejak saat itu pula, aliran Hindu Siwa juga lebih dominan di tanah jawa daripada Hindu Wishnu.

Pasukan Kediri yang mencoba memadamkan pemberontakan ini dan dipimpin langsung oleh Raja Kertajaya dikalahkan oleh Tumapel dan Raja Kertajaya pun terbunuh dalam perang ini. Sejak saat itu Kerajaan Kediri menjadi daerah jajahan Tumapel yang disebut dengan nama baru, Singosari dan Ken Arok bergelar sebagai Ranggah Rajasa, pendiri Wangsa Rajasa yang keturunanya akan turun temurun memerintah Jawa dari Era Majapahit sampai Mataram Islam dengan segala intrik perang saudara.

Dalam Negarakertagama, riwayat kelam kehidupan Ken Arok coba disembunyikan dengan disebut lahir tanpa ibu dan putra dari Bathara Girinata. Hal ini bisa dimaklumi karena naskah tersebut memang ditulis untuk mengagungkan para Raja Majapahit, tentu tidak patut bila nenek moyang pendiri raja Majapahit ditulis sebagai berandal, pencuri, pengkhianat dan lain-lain.

Kekalahan Raja Kertajaya membuat para keturunan Wangsa Airlangga – Syailendra mengungsi meninggalkan Kediri. Mereka mendirikan kerajaan baru bernama Glangglang di bumi Ngurawan Madiun.

Pada masa Singosari diperintah oleh Raja ketiga, Glangglang juga diperintah generasi ketiga dengan rajanya yang bernama Prabu Jayakatwang cucu dari Kertajaya. Kertanegara raja ketiga Singosari, adalah raja lalim yang tidak disukai oleh rakyat maupun raja-raja lainya. Utusan diplomasi Mongol yang datang padanya dipotong telinganya.
Jayakatwang sukses meruntuhkan Singosari, lalu membangun kembali kerajaan Kediri. Karena memiliki jiwa welas asih dan bijaksana, Jayakatwang tidak membunuh putra Mahkota Singosari bernama Raden Wijaya, tapi malah memberi ampun dan tanah perdikan di Hutan Tarik.
Air susu ini dibalas oleh air tuba oleh Raden Wijaya, dia memanfaatkan pasukan Mongol yang sebenarnya datang ke tanah Jawa untuk menghukum Kertanegara Raja Singosari, ayahnya. Tapi dengan licik dia sukses memanfaatkan Mongol untuk menghancurkan Kediri Baru dan membantai semua anggota keluarga Jayakatwang.
Musnah sudah Keturunan Wangsa Airlangga yang juga masih keturunan Wangsa Isyana dan Wangsa Syailendra. Sejak saat itu, tanah jawa akan diperintah oleh Wangsa Rajasa yang tidak memiliki garis silsilah dengan wangsa-wangsa sebelumnya. Sejarah para raja dari Wangsa Rajasa akan dipenuhi oleh perang saudara, pemberontakan, pengkhianatan panglima dan patih. Sejak era Majapahit berdiri sampai era Kraton Solo sekarang ini. :mrgreen:Tapi dalam kronik atau novel sejarah jawa seperti Tutur Tinular, Jayakatwang sering digambarkan sebagai sosok antagonis, penjahat, lalim, pemberontak, pembangkang dsb. Padahal dia naik tahta atas dorongan rakyat untuk membangun kembali Kediri dan mengembalikan tahta pada Wangsa Airlangga.

Yaa begitulah sejarah, selalu ditulis oleh yang memenangkan pertempuran untuk memuja kebesaranya dan menistakan musuhnya.

Ken Arok Sang Penumpas Dinasti Wangsa Syailendra Jawa dan Pendiri Wangsa Rajasa


Tulisan ini adalah hasil obrolan saya dengan seorang rekan di warung kopi ketika acara Festival Glangglang 2014, Kerajaan Ngurawan, Dolopo, Madiun. Karena kebetulan kami punya minat yang sama pada sejarah, siang itu dia membuka wawasan saya bahwa Jawa juga mengalami perang sedahsyat Mahabharata yang akhirnya me-reset kebudayaan pada jalur lain.

Sebelum Singosari dan Majapahit (dua kerajaan ini satu keturunan trah) berkuasa, kehidupan politik di tanah jawa aman dan damai. Tidak ada pernah ada huru-hara antara orang jawa sendiri. Bilapun ada serangan pada kerajaan Medang ketika pernikahan Airlangga, itu karena provokasi Sriwijaya dari tanah Sumatera.

Dari zaman Medang Mataram sampai Era Kerajaan Kediri, semua suksesi kepemimpinan berlangsung damai, serta semua masih dalam satu garis keturunan. Trah dinasti Syailendra dari Kerajaan Medang Mataram yang mewariskan pada kita Borobudur, Prambanan dan candi-candi lain di wilayah Jawa Tengah.

Bila diurutkan garis keturunan para raja jawa dulu adalah:
Wangsa Syailendra-Sanjaya (era Medang Mataram, hancur karena letusan gunung merapi pada masa Mpu Sindok)
Wangsa Isyana (Merujuk pada gelar Mpu Sindok saat bertahta  setelah pindah ke Jawa Timur, tapi runtuh setelah diserbu Sriwijaya)
Wangsa Airlangga (Airlangga sang cucu Mpu Sindok berhasil mendirikan lagi kerajaan Kakeknya dan keturunanya menjadi raja-raja Jawa sampai era Kediri)
Ketiga wangsa tersebut masih satu trah keturunan, yaitu Syailendra. Garis keturunan para raja ini terputus ketika Ken Arok menggulingkan Raja Kediri Kertajaya lalu mendirikan Singosari. Salah satu anak Kertajaya berhasil melarikan diri ke Madiun dan mendirikan kerajaan Glangglang di Ngurawan yang nantinya melahirkan Jayakatwang.

Jayakatwang kemudian berhasil meruntuhkan Singosari dan mendirikan lagi kerajaan Kediri. Dia berhasil menangkap Raden Wijaya, putra mahkota Singosari yang kemudian diampuninya lalu diberi tanah perdikan di hutan tarik.  Raden Wijaya kemudian berkhianat dengan memanfaatkan tentara Mongol, yang datang ke tanah Jawa untuk menghukum bapaknya tapi malah digunakan untuk menyerbu Jayakatwang Kediri. Untuk mencegah Wangsa Syailendra keturunan Airlangga bangkit lagi, Jayakatwang berserta semua keluarganya dibantai habis.

Sejak saat itu yang berkuasa di tanah Jawa adalah keturunan Ken Arok dan Ken Dedes yang kemudian disebut sebagai Wangsa Rajasa. Wangsa ini sama sekali tidak mempunyai hubungan darah dengan Wangsa-wangsa sebelumnya.
Maka tidak mengherankan bila sejarah jawa sejak era Majapahit, Demak, Pajang, Mataram Islam, Kartasura, Surakarta selalu dipenuhi perang rebutan kekuasaan.

Ken Arok yang bukanlah keturunan bangsawan atau agamawan atau brahmana, tapi berandalan. Ayahnya hanya seorang wedana, pembantu adipati pada masa Kerajaan Kediri. Saat masih dikandungan ayahnya meninggal, lalu saat dilahirkan dia pun terpaksa dibuang oleh Ibunya di sebuah  pemakaman, lalu diasuh oleh keluarga pencuri.

Ken Arok lalu tumbuh menjadi berandalan dan menjadi perampok paling ditakuti di wilayah kerajaan Kediri. Dia lalu bersahabat dengan putra Tunggul Ametung, akuwu/camat wilayah Tumapel bawahan Kediri. Karena tertarik pada istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Dengan siasat mengantarkan keris pusaka, Ken Arok sukses membunuh Tunggul Ametung, lalu menjadi penguasa Tumapel kemudian menggulingkan kekuasaan. Keberhasilan suksesi berdarah ini karena didukung oleh seorang Brahmana sakti dan licik asal India bernama Lohgawe yang memaklumatkan pada rakyat bahwa Ken Arok adalah avatar Wishnu.

Maka cukup aneh bila ada kebanggaan legitimasi keturunan Majapahit untuk menjadi pemimpin negeri ini. 😉 Semoga masih ada keturunan Wangsa Syailendra yang nantinya tampil untuk memimpin negeri ini. Agar ada lagi pemimpin yang agung lagi bijaksana seperti Sanjaya,

Obrolan kami terhenti, karena ada dua orang turis dari Bristol-England yang mampir ke warung dan bingung mau makan apa? Setelah cas-cis-cus kami bantu menerjemahkan dia pun tertarik memesan Cassava Espana atau sayur terong atau jangan terong. :mrgreen: Oleh pemilik disajikan 1 piring nasi, 1 mangkok sayur terong, 1 piring lumpia, 1 tempe, 1 piring salak. Lha kok yang dimakan cuma semangkok sayur terong pakek nambah lagi. :mrgreen:

bule terong

 

 

Sebuah Meriam Zaman Majapahit ditemukan di Australia


image

Selama ini di bangku sekolah kita di doktrin bahwa nenek moyang kita adalah bangsa primitif yang hanya bersenjata pedang dan bahkan bambu saat melawan Belanda. Padahal faktanya, sejak masa Majapahit bumi Nusantara telah sanggup memproduksi senjata api berupa meriam dan meriam panggul yang disebut cetbang.

Berikut Keunggulan meriam Majapahit yang ditemukan di Australia:
1) Terbuat dari perunggu, sehingga anti karat. Beda dengan meriam2 Eropa, yang umumnya terbuat dari besi
2) Memiliki kamar & tabung peluru. Tabung peluru dimasukan dari belakang meriam, dan dipicu dgn hentakan atau picu sumbu api (bukan disundut/disulut). Sehingga Cetbang sangat tangguh dalam segala cuaca, dan tak melempem karena hujan ataupun badai ombak. Beda dengan meriam Eropa yang pengisian Serbuk Mesiu dan peluru dari depan moncong meriam, lalu disulut dengan api.
3) Cetbang adalah cikal bakal RPG/Bazooka modern.

Meriam kecil (Cetbang) ini disebutkan dalam Prasasti Sekar (Prasasti yang ditemukan di Bojonegoro). Cetbang dibuat di Rajekwesi, Bojonegoro dengan Mesiu yang dibuat di Swatantra Biluluk (ada juga disebut dlm Prasasti Biluluk, soal Pagaraman Biluluk).

Yuuk Hadir di Festival Glang-Glang, Pemecahan Rekor MURI untuk Pelestarian Sejarah Madiun


festival glangglang

Saat pemerintah tidak menaruh perhatian pada sejarah daerahnya, para pecinta sejarah di Madiun secara swadaya melalui LSM Kompas Madya Historia van Madioen menggerakkan minat masyarakat dalam memelihara sejarah daerahnya.

Sebuah Festival yang bertempat di desa Ngurawan, Kec. Dolopo, Kab. Madiun ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan dan untuk menjaga peninggalan Sejarah di Madiun. Di desa Ngurawan ini dulu masih tersisa reruntuhan Istana Glang-glang tempat bertahta Prabu Jayakatwang. Sayangnya reruntuhan tersebut sekarang sudah hampir tak berbekas lagi.

Monggoo bagi sobat peminat sejarah untuk datang langsung ke desa Ngurawan, Dolopo, Madiun. untuk berpatisipasi dalam acara pemecahan rekor MURI. Oleh panitia disediakan tempat menginap bagi peserta dari luar kota.

glangglang

Madiun dulu adalah pusat kerajaan Gelang gelang yang dipimpin oleh Raja Jayakatwang. Dialah yang menghancurkan Raja Kartanegara dari Singhasari, lalu membangkitkan kerajaan Kediri yang dihancurkan oleh Kertanegara.

Jayakatwang adalah raja welas asih yang bijaksana, dia menyerbu Singhasari karena mengklaim sebagai ahli waris yang sah dari kekuasaan Kediri. Karena leluhurnya adalah Raja Kertajaya yang memerintah Kediri yang diserbu oleh Ken Arok dan menjadikan Kediri bawahan Singhasari.

Setelah menaklukan Singhasari, Jayakatwang memberi pengampunan pada putra Kertanegara bernama Raden Wijaya dengan memberinya wilayah otonomi di Hutan Tarik. Sebagaimana diketahui, Raden Wijaya kemudian  memanfaatkan pasukan Mongol yang sebenarnya datang untuk menghukum Kertanegara ayahnya. Tapi kemudian dimanfaatkan untuk menggempur Jayakatwang dan mendirikan Majapahit.

jayakatwangJayakatwang juga yang pertama menggunakan panji merah putih

 

Sasaran lokasi juga sangat mudah dituju sob. Yaitu di tepi jalan raya Madiun-Ponorogo. 2KM setelah pasar Dolopo bila dari arah Madiun ke selatan. Atau 5KM setelah pasar mlilir bila dari arah Ponorogo ke utara menuju Madiun. Berikut sasaran peta google maps, yg bertanda merah.
image

Jika sudah dekat sasaran tanya saja, keywordnya MI thoriqul Huda Ngrawan.

Shigeru Ono, Sang Pejuang Kemerdekaan dari Jepang telah meninggal dunia


image

SHIGERU Ono, bekas tentara Jepang yang memihak Indonesia, meninggal dunia pada 25 Agustus lalu akibat penyakit tifus dan pembengkakan pembuluh darah. Dia menyusun buku taktik perang gerilya untuk militer Indonesia di masa revolusi.

Ketika kalah melawan Sekutu, banyak tentara Jepang bingung; kembali ke negerinya atau bertahan. Tak sedikit yang melakukan harakiri (bunuh diri untuk memulihkan kehormatan). Shigeru Ono, serdadu Tentara Ke-16 Angkatan Darat Jepang di Jawa, pun sempat tergoda namun mengurungkan niatnya.

Ono, yang lahir pada 26 September 1919 di Furano, Hokkaido, memutuskan bertahan di Indonesia. “Indonesia sudah banyak membantu Jepang. Kami ingin memberikan yang tidak bisa dilakukan oleh negara kami,” ujarnya dalam Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik karya Eiichi Hayashi.

Ono keluar dari ketentaraan Jepang. Atas saran Kapten Sugono, komandan polisi militer Jepang di Bandung, dia mengganti pakaiannya dengan sarung dan peci, melumuri tubuhnya dengan lumpur agar kulitnya terlihat lebih gelap, dan menambahkan “Rahmat” di awal namanya: Rahmat Shigeru Ono.

Sempat melatih pemuda Indonesia, Ono kemudian menyingkir ke Yogyakarta. Dia menjalankan tugas penting dari Markas Besar Tentara untuk membuat buku rangkuman tentang taktik perang dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Atas perintah Kolonel Zulkifli Lubis, petinggi militer Indonesia yang kelak menjadi pejabat KSAD, Ono juga menyusun buku tentang taktik khusus perang gerilya.

Selain itu, bersama eks tentara Jepang dan pejuang Indonesia, Ono bergerilya dari satu tempat ke tempat lain. Salah satunya, menyerang markas KNIL di Mojokerto pada Juni 1947.

Pasca Perjanjian Renville, ada kesepakatan untuk menangkapi semua eks tentara Jepang yang masih di Indonesia. “Pada Juli 1948, untuk menghindari penangkapan, serdadu Jepang berkumpul di Wlingi, Blitar, Jawa Timur untuk membuat satu pasukan. Yang tercecer dikumpulkan,” tulis Wenri Wanhar dalam Jejak Intel Jepang: Kisah Pembelotan Tomegoro Yoshizumi.

Ke-28 eks tentara Jepang yang hadir itu lalu membentuk Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) pada 24 Juli 1948. Arif Tomegoro Yoshizumi jadi komandan dan Ichiki Tatsuo wakilnya. Wilayah operasi mereka di Dampit, Malang Selatan, dan Wlingi, Blitar. Ono bertugas di Dampit.

Pertempuran pertama PGI adalah ketika menyerang pos tentara Belanda di Pajaran, Malang, semasa gencatan senjata. Aksi mereka berisiko mencoreng nama Indonesia di dunia internasional, namun PGI beralasan Belanda lebih sering melanggar perjanjian.

Sepeninggal Tomegoro Yoshizumi dan Ichiki Tatsuo yang gugur dalam pertempuran, PGI bergabung dalam kesatuan militer formal dan mengubah namanya menjadi Pasukan Untung Suropati 18.

Usai pengakuan kedaulatan pada akhir 1949, Ono menetap di Batu, Malang, Jawa Timur. Dia mengisi hari-harinya dengan bercocok tanam. Pada Juli 1950, Ono menikah dengan Darkasih dan dikaruniai lima anak.

“Dia dijodohkan Sukardi, orang Jepang juga, kawan papi,” ujar Erlik Ono, putri kelima Ono, kepada Historia. Sukardi bernama Jepang Sugiyama.

Ono pernah bekerja sebagai salesman lampu, pegawai perusahaan peternakan di Jakarta, dan perusahaan eksportir rotan di Kalimantan. Setelah pensiun pada 1995, dia kembali ke Batu dan mengisi waktu dengan bertani, menerima wartawan, serta mengunjungi keluarga atau kenalan yang sakit.

“Sifat kekeluargaan bapak sangat besar,” kenang Erlik.

Sumber : Historia

Rekonstruksi Desain Rumah era Majapahit


Rekonstruksi rumah MAJAPAHIT telah dilakukan berdasarkan temuan di situs landasan permukiman trowulan mojokerto. rekonstruksi rumah ini pernah dipamerkan di jakarta dan dihadiri presiden SBY, sekarang bangunanya ada di Museum Majapahit, Trowulan. jika diperhatikan posisinya yang berada di pinggir pagar dan dekat pintu masuk, kemudian diperbandingkan dengan arstektur kuno bali, maka bangunan ini hanyalah sebuah dapur dari rumah MAJAPAHIT secara lengkap.

Rumah MAJAPAHIT bukanlah berupa satu gugus bangunan yang terbagi menjadi kamar2, tetapi berupa satu halaman yang di dalamnya terdapat banyak bangunan. bangunan2 itulah kamar2. ada satu bangunan untuk ruang tidur orang tua, satu bangunan untuk ruang tidur pria, satu bangunan untuk ruang tidur wanita, satu bangunan untuk gudang dan alat upacara, serta beberapa gugus tugu tempat peribadatan

Majapahit

Sumber: FB. Majapahit
Ilustrator: Tjahja Tribinuka

124 Tahun Migrasi Bangsa Jawa ke Amerika Selatan.


image

9 Agustus 1890 – 9 Agustus 2014. Bulan Agustus menjadi bulan yang sakral bagi orang Jawa di Suriname, Amerika Selatan.

Pada bulan inilah, 124 tahun yang lalu nenek moyang mereka dibawa oleh Belanda untuk bekerja di Suriname. Dari bumi belahan timur, mereka dibawa ke sebelah barat, sebuah perjalanan panjang dan jauh.

Sungguh pastilah sangat berat bagi para leluhur orang Jawa untuk berpisah dari tanah kelahiran, sanak saudara dan kerabat untuk selamanya. Prinsip hidup bangsa Jawi terpaksa harus dilanggar, mangan ora mangan sing penting mlumpuk bareng sedulur.

Satu seperempat abad telah berlalu, semoga sedulur jawa di sana diberi keberkahan hidup.

Berikut galeri foto diaspora orang Jawa ke Suriname

image

image

image

Umar bin Khattab, Orang Pertama yang mengembalikan Yahudi ke Israel Setelah Diaspora


Ketika Umar bin Khattab mampu menaklukan Syam dan Kota Jerussalem, saat itu tidak ada komunitas Yahudi yang bermukim di wilayah tersebut pada masa Romawi.

Setelah menaklukan persia dan berhasil menjaga integritas semua wilayah taklukan. Umar ingin membersihkan semenanjung Arabia dari non-muslim. Umar beralasan bahwa dirinya pernah mendengar langsung Nabi Bersabda:
“Aku akan mengusir orang-orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab, sehingga yang tertinggal hanya orang-orang Muslim”

Pada masa Umar, terdapat tiga komunitas non muslim di Arab: Yahudi Fidak, Yahudi Khaibar dan Nasrani Najran. Walaupun mereka diusir, tapi Umar memperlakukan mereka dengan adil.

Adapun Yahudi Khaibar mereka tidak mendapat ganti rugi atas tanah dan hasil pertanian yang masih belum dipanen. Karena tanah mereka sudah sudah berstatus rampasan perang pada masa Nabi ketika mereka berkhianat. Dan selama ini status mereka pada tanah berdasarkan akad muzaraah.

Sedangkan bagi Kristen Najran walau mereka taat membayar Jizyah/pajak perlindungan, tapi mereka melanggar perjanjian dengan tetap bertransaksi secara ribawi. Tapi tetap memberikan ganti rugi dan perlindungan selama mereka dipindahkan ke Kufah-Irak.

Sedangkan Yahudi Fidak, karena mereka telah mengadakan perjanjian sejak zaman Nabi dan belum berkhianat. Maka Umar menghitung setengah hasil bumi mereka, nilai barang berharga mereka dari emas dan onta lalu memberikan pada mereka, yang kemudian  berpindah ke Syam di dekat Jerussalem, wilayah Israel sekarang.

Untuk Kristen Najran dan Yahudi Fidak, Umar memberikan surat pengantar sebagai berikut:
Amma Ba’du. Kepada para pemimpin Syam dan Irak, yang kedatangan mereka. Maka terimalah dan berikan mereka sejengkal tanah. Barangsiapa memberikan mereka pekerjaan, maka hal itu shodaqoh baginya. Mereka tidak wajib membayar jizyah selama 24bulan. Tidak dibebani kecuali atas apa yang telah kalian sepakati. Tidak dianiaya dan jangan berlaku dzolim”

Demikianlah kisah Umar, penguasa pertama di muka bumi yang mengizinkan Yahudi kembali ke tanah Israel setelah diaspora.

Ketika umar menerima kunci kota Jerussalem, hanya 35 muslim di dalam kota yang merupakan para pedagang dari Yaman. Mereka lah yang memberi nasihat kepada para Pendeta Kristen untuk menyerahkan kota dengan mengabarkan keadilan dan kebijaksanaan Umar.

Masjidil Aqsa ketika itu juga banyak digunakan sebagai  tempat ziarah bagi banyak umat, seperti kakbah sebelum Islam. Ketika Umar Sholat di halamanya, banyak yang berpendapat bahwa dia sholat di halaman gereja, karena memang al-Aqsa pada masa itu dikelola para pendeta Kristen.

Daftar Bacaan:
١.كتاب الخراج لابي يوسف
٢.النظم المالية والاقتصادية في الدولة الاسلامية : محمد مرعي
٢. منهج عمر ابن الخطاب في التشريع : محمد بلتجي

Sekilas Perang Puputan Bayu, Kabupaten Banyuwangi


Salah satu perang bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial, tapi luput dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. klik “view original” untuk membaca di sumber aslinya

Pusaka Jawatimuran

Disusun oleh: Hasan Ali
Ketua Dewan Kesenian Blambangan

1. PENGANTAR

(Bahasa Using: puput = habis; Puputan Bayu = Perang habis-habisan di Bayu).
Perang   Puputan Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda  dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di bayu (Kecamatan Songgon sekarang). Peperangan ini oleh fihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056). Di fihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, mcmbela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.

Dalam Perang Puputan bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Jagapati, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Dalem Wiraguna (Mas Bagus Puri) dengan ibu dari desa Pakis, Banyuwangi (Pigeaud, 1932:…

Lihat pos aslinya 2.530 kata lagi

Melihat fakta Sejarah, presiden non-Jawa mungkin lebih bisa menjaga wibawa kedaulatan Indonesia


image

Kedewasaan berfikir dan menyikapi (kepribadian masyarakat) tentulah berkembang setiap zaman sesuai dengan dinamika yang ada.

Di zaman ini, Masyarakat pulau Jawa secara kepribadian lebih terbuka dan toleran pada perbedaan. Masih berbanding terbalik dengan beberapa wilayah yg masih sensitif pada perbedaan, seperti kasus pilkada yg di beberapa daerah sampai menimbulkan kerusuhan.

Karakter masyarakat boleh berkembang, tapi dalam imho-saya karakter pemimpin dari suku Jawa tidak berkembang. Yaitu tetap rentan/sangat mudah terpengaruh kepentingan asing. Even that Soekarno!

Cukup melihat fakta sejarah era kolonial. Raja-raja di jawa lebih memilih tunduk menghamba pada Belanda daripada perang mati-matian sampai hancur lebur.

image

Hanya seorang Jenderal Sudirman yg bertempur mati-matian melawan Belanda. Ehh beliau kan bukan keturunan raja

Dua panglima perang dari trah raja: Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda karena tipu muslihat Keraton Surakarta, setelah tergiur perjanjian.

Sedang berabad sebelumnya, Mangkubumi yang sempat ditakuti sebagai Samber Nyawa juga akhirnya memilih berdamai dengan Kompeni VOC.

Sangat berbeda dengan sejarah perang orang Banjar misalnya, Pangeran Antasari memilih mati daripada menjadi boneka kompeni, demikian juga sang putra Mahkota. Kerajaan Aceh pun demikian.

Sultan Hasanudin dari Makassar juga gak kalah heroik. Kapitan Pattimura juga memilih digantung daripada menjadi kacung kompeni.

Yang paling gemilang tentu saja raja-raja kesultanan Ternate. Setelah sultan Hairun mati terbunuh melawan Portugis, putranya Sultan Baabullah sukses mengusir Portugal dari Nusantara selamanya.

Sejarah raja-raja luar jawa telah membuktikan bahwa mereka punya mentalitas “merdeka atau mati” yang tidak dimiliki sejarah raja-raja Jawa yang dalam sejarah lebih memilih “perang untuk kompromi”.

Soo, mungkin gak ada salahnya jika tahun 2014-2019 mencoba pemimpin dari luar jawa, toh cuma trial selama 5 tahun :mrgreen: bukankah itu salah satu fitur demokrazy kenapa gak dimanfaatin. 😉

Yang penting bukan asal ini aja
image

Keindahan Majapahit: Sketsa Negarakertagama #8


Sketsa-sketsa ini bukan karya saya, ini berasal dari FB group pecinta sejarah Majapahit (Klik di sini) . Hak karya cipta dimiliki oleh Sdr. Tjahja Tribinuka (Alamat FB-nya)

Negarakertagama pupuh8

majapahit 11. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.

majapahit sketsa 22. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pasar, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.

majapahit 33. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.

majapahit 44. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkumpul.

majapahit 55. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat bercengkrama para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.

semoga bermanfaat, dan bisa menjadi cermin untuk kebanggaan kebesaran sejarah yang telah diukir nenek moyang kita.

Perang Jawa: Bantuan Turki menghancurkan Majapahit.


jawa moor dan china

Sunan Ngundung dan Amir Hamzah beserta sisa 35 pasukan tidak kembali ke demak, mereka berkemah di Lawu karena pantang pulang sebelum misi menaklukan Majapahit selesai. Demak kemudian mengirimkan lagi 7.000 pasukan untuk menuntaskan misi.

Di Majapahit, kemenangan terasa menyesakkan dada mereka karena tewasnya Panglima Gajah Sena. Dalam pertempuran kehilangan seorang jenderal lebih menakutkan daripada 1000 pasukan.

Brawijaya kemudian menyiagakan kembali pasukan dengan dipimpin sang putra mahkota Raden Gugur. Ini adalah sebuah blunder besar, menurunkan putra mahkota ke medan laga padahal musuh masih kuat.

Pertempuran kedua berlangsung, Majapahit kembali menang tapi Raden Gugur tewas di medan laga.

Di saat genting bantuan dari Kadipaten Wengker utusan Bathara Katong tiba. Pasukan Demak yang semula mengira mereka kawan menjadi kalang kabut karena wengker memilih membela Majapahit.

7.000 pasukan Demak akhirnya musnah ditumpas, Sunan Ngundung dan Amir Hamzah putera Sunan Wilis ikut tewas. Kabar kematian dua panglima berserta kekalahan kedua ini benar-benar membuat suasana Demak mencekam.

bendera majapahit

Masyarakat Demak diliputi isu bahwa kekalahan mereka karena melanggar wasiat Sunan Ampel agar jangan menyerang Majapahit. Mereka merasa sebagai umat yang durhaka, semangat tempur prajurit pun turun.

Karena Nusantara adalah pusat perdagangan dunia, berita kekalahan kedua Demak menyebar cepat ke seluruh dunia.

Di saat bersamaan Turki Ottoman (tahun 1500-1525) sedang gencar berekspansi di Timur Tengah  dan Asia.  Telah memiliki armada laut yang tangguh untuk bersaing dengan Bangsa Eropa memperebutkan sumber rempah-rempah.

Mereka mendapat hak eksklusif di samudra Hindia untuk melindungi rute pelayaranya. Ini adalah hadiah dari kerajaan Aceh karena Turki sponsor Aceh dalam perang melawan Batak.

Diplomasi erat Turki-Aceh inilah yang mampu membuat Aceh bertahan sampai tahun 1910. (Catatan Frederict De Houtman 1603M) Belanda baru berani menyerang Aceh saat Turki Ottoman sudah runtuh.

Melihat situasi Demak dan atas rekomendasi diplomasi Aceh serta semangat Pan Islamisme, Turki membantu Demak dengan mengirimkan pasukan dan ahli senapan dan meriam. Di kemudian hari Demak terkenal sebagai penghasil meriam terbaik di Nusantara.

meriam made in jawa

Bagi Turki, Demak sangat strategis untuk mengamankan pasokan rempah-rempah terkait persainganya dengan Portugis. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M.

Mughal di India yang tak pernah akur dengan Turki Ottoman tak mau kalah dalam mencari posisi keuntungan dalam perang Jawa. Mereka mengirim bantuan 50 ekor gajah perang.

Mughal sendiri tidak intens terlibat dalam perang karena pada saat yang sama mereka juga terlibat perang melawan Portugis dalam rebutan Goa dan Ceylon.

Semangat tempur pasukan Demak yang sempat surut karena takut kualat dengan wasiat Sunan Ampel kini tumbuh kembali melihat semangat jihad dalam diri pasukan bantuan asing.

Portugis mencatat ada sekitar 300 pasukan Turki bersenjata lengkap dalam barisan militer Demak. Melihat kekuatan Demak yang demikian kuat, Majapahit mencoba membuat aliansi dengan Portugis.

Dalam catatan Tome Pires bertahun 1512 M, Patih Udara dari Daha (Ibukota terakhir Majapahit) mengirimkan seperangkat gamelan dan kain batik pada penguasa Portugis di Malaka.

Kabar ini semakin menguatkan tekad Demak untuk menginvasi Majapahit. Semangat jihad dan anti Portugis membuat gelora Demak membara.

Dukungan pasukan multinasional dan artileri berat tercanggih di zamanya. Serbuan pamungkas Demak ke Majapahit ini seperti kisah film “The Last Samurai” dalam bayangan saya.

Sebuah peradaban agung bernama Majapahit yang mencoba bertahan dengan sisa-sisa kekuatan karena perang saudara, dihancurkan dengan meriam dan mesiu.

Lumrah bila di hari ini sangat susah menemukan warisan bangunan monumental dari peradaban Majapahit.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Artikel sebelumnya:
Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah

Indonesia Bersatu seharusnya Bukan Karena Majapahit


Seberapa besar Majapahit akan selalu menjadi studi perdebatan panjang bagi anak negeri. Hal ini disebabkan karena luas wilayah NKRI didasarkan pada klaim daerah yang ditaklukan Majapahit.

Saudara sebangsa yang berada di luar jawa merasa bahwa bergabungnya mereka ke dalam NKRI adalah karena klaim pernah ditaklukan Majapahit. Bukan berdasarkan sukarela, cinta kasih dan satu perjuangan.

Wajar bila kemudian mereka mengemukakan pendapat bahwa nenek moyang mereka tidak lemah atau pernah dijajah, karena fakta sejarah terbaru membuktikan bahwa mereka juga penjelajah Nusantara yang tangguh.

Sejarah juga mencatat bahwa nenek moyang kita di timur ditindas lebih kejam daripada yang di Barat. Orang Banda bahkan ditangkap dijadikan budak belian dan tenaga kerja sampai mati untuk membangun Batavia. Fakta sejarah yang menghambat peradaban saudara di timur.

NKRI harusnya berdiri diatas sejarah bahwa kita terdiri dari suku bangsa yang tangguh, yang saling menginginkan persatuan serta saling toleran antar suku lainya. Bukan disuguhi sejarah bahwa nenek moyang kita saling berperang untuk meluaskan kekuasaan.

Lihat sejarah bagaimana indahnya Ternate-Aceh dan Demak membentuk aliansi (Aliansi Tiga) multi suku, bersatu padu menggempur Portugis. Tiga suku dari tiga pulau untuk satu tujuan.

Bila melihat ke era kerajaan kuno. Sejarah kita lebih banyak diisi konflik antar anggota suku terutama tentang hal tahta, bukan perang perebutan wilayah antar suku.

Kalau ada itu hanya satu buku yang menceritakan perang, yaitu negarakertagama tentang perluasan wilayah Majapahit. Tapi apakah buku itu sebuah dokumentasi atau sastra dongeng seperti kebanyakan kitab kuno jawa lainya?

Bila kitab negarakertagama masih diragukan keotentikanya, lalu kenapa kita menyandarkan alasan persatuan dan kesatuan NKRI pada teori penaklukan?

Alangkah indah bila kita ajarkan pada generasi masa depan, bahwa pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke bersatu jadi Indonesia karena meniru aliansi tiga kerajaan, Aceh-Demak dan Ternate.

Nenek moyang kita telah mengajarkan, bahwa untuk merdeka dan berdaulat kita harus bersatu.

Atau akui saja klaim sejarawan barat bahwa kita bersatu padu karena jasa Belanda menjajah kita, sehingga timbul rasa senasib seperjuangan.
image

Bonus gambar
image

Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah


Dalam sejarah di belahan dunia mana pun, selalu terjadi perang antara masyarakat yang lebih maju peradaban dan yang lebih primitif. Ada dua model perang seperti ini, pertama pelakunya masih satu ras seperti suku Maya dan Aztec yang menindas suku-suku lainya, seperti di film Apocalypto.

apocalypto-7Yang kedua adalah model penjajahan seperti nasib bangsa Aborigin di Australia dan Indian di Amerika, serta juga suku Maya dan Aztec di tangan Spanyol. kualat!

Perang Jawa adalah perpaduan kedua model di atas, di satu sisi merupakan perang antara ras suku Jawa tapi di sisi lain ada infiltrasi dogma dan ideologi dari luar. Bisa juga disebut merupakan perang India ke-2, atau lanjutan perang India tapi terjadi diluar India.

Kondisi politik di Jawa tahun 1500masehi sedang terpecah menjadi dua kutub, utara dan selatan. Yang di pesisir utara sudah memeluk agama Islam yang dibawa para pedagang dari India dengan Demak sebagai representasi kerajaan. Sedang mereka yang di selatan masih tetap menganut Hindu dan tunduk pada Majapahit.

Secara ekonomi, tahun 1500 M adalah tahun kejayaan Kepulauan Nusantara. Nusantara menjadi penyuplai sekaligus pusat perdagangan komiditas dunia terpenting yaitu rempah-rempah. Nilai rempah-rempah saat itu seperti minyak bumi saat ini.

Dalam catatan Portugis bertahun 1480 M, pendiri Demak adalah orang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko Po yang kemudian digantikan putranya yang bernama Pate Rodim. Walau berasas Tionghoa, Demak kemudian lebih akrab dengan kerajaan Mughal di India karena hubungan perdagangan dan ideologi agama. Ditambah lagi fakta bahwa Mughal selalu berusaha melebarkan kekuasaan ke wilayah China sebagai bagian dari wasiat Timurlenk. Dan mungkin juga karena ada pergantian Dinasti di China pada awal tahun 1500-an, Han ke Ming.

Keakraban Demak dan Mughal-India semakin mengental ketika perang salib berlangsung dan berlakunya embargo rempah-rempah ke Eropa. Jalur rempah-rempah pada masa itu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam, mulai dari timur tengah sampai sebagai pemasar ke Eropa sampai India dan Nusantara sebagai sumber rempah-rempah.

Aksi embargo itulah yang akhirnya memaksa Bangsa Eropa berlayar mencari sendiri sumber rempah dan melakukan kolonialisasi.

jawa moor dan chinainteraksi antara orang Moor, Jawa dan China.

Mughal mewarisi semangat Timurlenk dalam menyebarkan Islam. (Masih ingat kan? atau klik di sini) Dinasti Islam India sebelum mughal, ditumpas habis oleh Timurlenk karena tidak terlalu agresif menyebarkan Islam pada penduduknya. Demak selalu mendapat provokasi dari Mughal untuk menyebarkan Islam ke seluruh Jawa, bila perlu Majapahit ditumpas sekalian.

Provokasi semakin gencar ketika Kesultanan Ottoman Turki juga mulai masuk ke Demak, Turki dan Mughal tidak pernah akur karena sejarah Timurlenk.  Mughal ingin terus menjaga kedekatan dengan Demak karenanya dia ingin tampil sebagai pahlawan dalam perluasan wilayah Demak.

Para sunan yang saat itu kedudukanya sebagai penguasa wilayah (setara gubernur), panglima perang sekaligus pemimpin spiritual sudah berkali-kali mengadakan musyawarah dan menyetujui untuk menyerang Majapahit. Tapi selalu saja kandas karena tidak mendapat restu dari ketua para sunan, yaitu Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim.

Sunan Ampel yang berkuasa di Surabaya, selalu menolak usulan itu. Dia selalu beralasan bahwa Majapahit bukan negara harby yang mengobarkan perang ataupun menjadi ancaman pada Demak, lagipula di dalam kekuasaan Majapahit orang-orang Islam bisa hidup dengan damai, maka tidak ada pembenaran Syar’i untuk memeranginya.

“Jeng Sunan Ngampel mambengi, mring para wali sedaya, lawan putra sedayane, rehning prabu Brawijaya, among sesadyanira, mring para wali sedarum, pinadekkaken kewala”
(Sunan Ampel melarang semua para wali begitu juga semua putranya, karena Prabu Brawijaya menjaga para wali semuanya, membiarkan saja apa yang dilakukan para wali itu)
Sumber: Kitab Wali Sana – Babadipun Parawali yang bersumber dari Sunan Giri II. ditulis ulang dan diterbikan oleh Penerbit dan Toko Buku “Sadabudi” Solo, 1955

Setelah Sunan Ampel wafat, perang akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Raden Fatah, Raja Demak saat itu yang sebenarnya putra mantu dan aslinya kelahiran Majapahit pun tak sanggup membendung nafsu perang.

Setelah musyawarah para Wali dan disetujui Raden Fatah, agresi pertama Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung dengan 7.000 pasukan dan 40 modin dengan wakil panglima Amir Hamzah putera Sunan Wilis.

Agresi militer yang pertama ini pecah perang di daerah Tunggarana.  Pasukan Demak dihadang 11.000 pasukan Majapahit yang dipimpin Panglima Gajah Sena. Walau akhirnya sukses menumpas Demak, tapi Majapahit kehilangan sang Panglima Gajah Sena.

Demak akhirnya mundur dengan pasukan tersisa cuma 35 orang, tapi Majapahit walau sepertinya menang tapi kehilangan panglima perang adalah pukulan telak bagi pertahanan kerajaan dalam menghadapi agresi militer kedua dari Demak.

Keputusan Demak berperang ini tidak serta merta ditaati oleh semua orang Islam di tanah Jawa. Bathara Katong yang berkuasa di Ponorogo (1485-1525M) menolak perang ini karena itu adalah melanggar wasiat Sunan Ampel. Di Agresi Militer ke II, Bathara Katong lebih memilih berperang dengan Majapahit melawan Demak.

(Bersambung ke link di bawah ini:

Perang Jawa: Bantuan Turki Menghancurkan Majapahit
*Untuk Artikel sejenis, bisa di klik di ping balik di kolom komentar, trims.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Apa Makanan Pokok Kakek Nenek Moyang Kita dulu?


Iseng-iseng sambil ngobrol tentang sejarah peradaban bangsa, eh lha kok tiba-tiba topiknya bergeser ke “Apa makanan pokok bangsa Indonesia di zaman jaya dulu?” Eh emang sekarang enggak jaya ya? 🙄

1483300_487196201392911_1029411294_nMakanan pokok erat kaitanya dengan kejayaan sebuah bangsa, karena dia adalah energi yang menggerakkan individu/rakyat di sebuah wilayah untuk menghasilkan suatu karya. Nagh leluhur Bangsa Kita yang tercinta ini, baru kita ketahui sebatas kerajaan Kutai bertahun 300Masehi belum sampai ke tahun Sebelum Masehi.

Bila saat ini masyarakat mengkonsumsi beras tiga kali sehari, maka itu adalah murni hasil dogma dan doktrinisasi era Orde Baru. Di era tersebut, aneka makanan pokok selain nasi dari beras dikonotasikan sebagai makanan melarat, kismin, makanan penderitaan dll.

Padahal di era tersebut masyarakat jamaknya mengkonsumi Thiwul-Ketela dan Jagung sebagai makanan pokok. Jadi kalau sekarang Indonesia kekurangan beras karena masyarakatnya rakus nasi ya wajar. :mrgreen: naghh sekarang digalakkan gerakan “membenci” nasi beras.

P2KP1Jadi si beras bukan pangan lokal gitu? 🙄 aya-aya wae menteri dari PKS ini, terus klo sapi sukanya impor gitu

Lalu bagaimana dengan Ketela? Ketela Pohon dan Ubi Rambat?. Ketela Pohon berasalnya dari Amerika selatan, dikenalkan di Nusantara oleh Portugis pada abad ke-16 dari Brazil, ketika itu Brazil jadi ibukota Portugis.

Lalu pada tahun 1800-an, Belanda memaksa penduduk Nusantara untuk menjadikan Ketela sebagai bahan pokok dan menyerahkan padi-beras sebagai pajak ke Belanda.

Lalu bagaimana dengan Ubi Jalar/kereta jalar. Walau ada pendapat yg menyatakan berasal dari Papua, tapi teori yg populer di kalangan ahli tetap berpendapat bahwa asal muasalnya juga dari Amerika Selatan dan pelaku penyebaranya adalah Spanyol.

Lalu apa dong makanan pokok nenek moyang kita sehingga mereka bisa membangun monumen kemegahan seperti Borobudur?

Susu Sapi serta Bahan Olahan dari Susu, dan juga daging sapi.

borobudurRelief Sapi sebagai sumber kehidupan di Borobudur.

Sepertinya nenek moyang kita zaman dulu itu sudah bisa swasembada sapi. Minuman sehari-hari mereka adalah susu sapi, dan sarapanya pun pake keju dan mungkin yoghurt. Mereka juga mengkonsumsi daging sapi sebagai makanan pokok dan nasi sebagai makanan pendamping. Catat!, nasi sebagai lauknya, bukan sebaliknya. atau mungkin hanya mengkonsumsi nasi 1 kali sehari seperti di India.

Jadi!, mungkin mereka sarapan pagi dengan segelas susu segar dan keju. Lalu baru ketika makan siang menyantap nasi ()

Bandingkan jaman sekarang yang generasi mudanya malah minum oplosan :mrgreen: dan makan nasi dua piring tapi lauknya cuma secuil daging. 😦

Bukti betapa melimpahnya populasi sapi di masa dulu bisa dilihat dari tulisan yg ditinggalkan prasasti kerajaan Kutai di Kalimantan. Yang menceritakan kedermawanan Raja Mulawarman karena menyedekahkan 20.000 ekor sapi untuk kaum Brahmana. (lihat di wikipedia sejarah Kutai) atau disini (klik disini)

Bila mampu menyedekahkan 20.000 ekor sapi, berarti sang Raja Mulawarman punya lebih dari 20.000ekor sapi. Bila itu 10%nya  maka berarti sang Raja punya 200.000 ekor populasi di kerajaanya. Bila penduduk Kutai berjumlah 500-ribu jiwa berarti ada 1 ekor sapi untuk 2orang.

Dalam tradisi Hindu di India, daging sapi memang tidak dikonsumsi, tapi dalam tradisi Hindu di Nusantara sepertinya sapi tetap dikonsumsi seperti kasus di Bali, mungkin hanya kasta Brahmana saja yang mengikuti tradisi di India.

Secara hitungan ekonomis pada zaman tersebut, biaya membuat peternakan Sapi lebih mudah dan murah dibanding membuka hutan untuk membuat sawah dan ladang. Sapi juga tidak memerlukan saluran irigasi yg rumit. Jadi Sapi adalah sumber makanan yang murah dan mudah.

Kerajaan Kutai sendiri bertahun abad ke-4 masehi berarti sekitar tahun 300-an. Lalu bagaimana dengan populasi sapi di Jawa? Kurang lebih sama dengan di kerajaan Kutai-Kalimantan. Populasi Sapi hancur ketika Jawa terlibat perang besar berlandaskan ideologi agama abad ke 17M.

meriam made in jawa

Perang Aliansi kerajaan Islam vs Aliansi Kerajaan Hindu itu menghancurkan hampir semua sendi kehidupan di Jawa. Karena itu adalah perang pertama di Jawa yang memakai artileri mesiu, setelah perang Jawa seperti CPU komputer yang direstart. 😦

Demak pada masa itu mampu dan terkenal sebagai produsen aneka macam senjata berbahan mesiu, merian dan bedhil. Ditambah dengan bantuan amunisi, finansial dan kavaleri Gajah dari kerajaan Mughal di India. (dilanjut di artikel khusus mawon)

Walhasil, Sapi juga turut menjadi korban, bahkan mungkin yang terparah selain terbunuh juga sengaja dibunuh sebagai harta rampasan perang dan konsumsi prajurit. Karena pihak yang menang adalah masyarakat pesisir yang tidak faham peternakan sapi. Sejak itulah budaya budidaya sapi dan bahan olahan sapi musnah dari peradaban Nusantara.

Masyarakat pun kemudian hanya mengenal beras, gaplek, telo, jagung, thiwul dan aneka makanan lain yang dijejalkan oleh para penjajah untuk melanggengkan nafsu imperialisme, bukan makanan para leluhur kita.

Mungkin di alam sana, para leluhur kita menangis melihat anak cucunya harus mengemis-ngemis ngimpor sekarung ketela padahal mereka dulu bersusah payah menaklukan banteng-banteng liar agar menjadi sapi sebagai sumber bahan makanan.

peta-sejarah-nusantara