Arsip Tag: majapahit

Trowulan Mojokerto , Apocalypto Majapahit


image

Akhirnya kesampaian juga. Menelusuri Trowulan, Kota yang diyakini terpendam di dalamnya perdaban Majapahit. Dalam berbagai prasasti, Trowulan disebut Antarwulan, Kotaraja Majapahit.

Berjalan pelan dengan Yamaha Byson menelusuri jalan. Lha kok saya ngelamun jadi Bahubaali, Raja Maheswari dari India yang bertamu ke tanah Jawa.
Baca lebih lanjut

Trowulan, Destinasi Touring Yang Mantab


image

Akhirnya kesampaian juga gan, jalan-jalan ke Ibukota Majapahit. Yang terletak di Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto, Jawa Timur.

Sejak dulu saya sudah terobsesi dengan Majapahit. Maka ya ke Trowulan ini, ibarat seorang fans Arsenal berkunjung ke Emirates Stadium. Jadi mohon maaf untuk teman-teman Jatimotoblog karena saya pamit duluan. Birahi ini sudah memuncak. Bahaya bila dipaksa berendam dengan lawan jenis di Pacet. Eh :mrgreen:

Pukul 06.00
Setelah melepas kepergian Cak Mario. Saya pun menyusul pamit menuju Trowulan. Awalnya pengen ke Candi Bajang Ratu dulu, yang semalam saya lewati. Berdasarkan rute tadi malam, di Kebon Dalem harusnya belok ke kiri. Ehh malah lurus terus sampai ke Mojosari. Yo wis rapopo. 😦

Baca lebih lanjut

Candi Cetho Tempat Brawijaya Moksa, Saat Gelap Berawan Malah semakin Eksotis


cetho

Candi Cetho adalah salah satu candi terindah di pulau jawa. Candi yang dibangun pada masa akhir kerajaan Majapahit ini sampai sekarang masih difungsikan sebagai tempat beribadah.

Lokasi candi yang berada di salah satu puncak pegunungan Gunung Lawu ini memang sangat menawan pemandangan alamnya. Bahkan ketika mendung gelap berawan menggelayut di langit, pemandangan di Candi tempat Brawijaya wafat ini semakin eksotis.

candi cetho1

Alkisah, saat Prabu Brawijaya V terguling dari tahta Majapahit beliau berhasil selamat dari pemberontakan Adipati Daha, Ranawijaya. Trowulan Ibukota Majapahit luluh lantak akibat serbuan itu, menghabisi riwayat kegemilangan Kerajaan Majapahit.

Dari kota Daha tempat Ranawijaya bertahta, putra menantu Brawijaya ini masih mengklaim sebagai penerus Majapahit. Tapi rakyat memandangnya tak patut duduk lagi di atas singgasana suci keturunan Wangsa Rajasa.

Dengan bantuan prajurit tersisa, Brawijaya berhasil selamat melarikan diri sembari memandang asap api menghanguskan kebesaran Istana Trowulan. Setiba di Kedaton Giri, wilayah persekutuan Demak, beliau langsung disambut para pengungsi dan pembesar giri untuk dihantar menghadap Sunan Giri.

Raden Fatah sang Raja Perseketuan Demak, putra beliau dari selir putri Cina Tan Go Hwat, telah menerima kabar kekalahan sang Ayahanda dan berkehendak untuk menjemput sendiri beliau di Kedaton Giri dengan kapal tercepat dari Demak.

Pertemuan ayah dan sang anak terbuang ini mengharukan Istana Giri. Raden Fatah meminta sang Ayah untuk menemaninya ke Demak dan menjadi penasehat di sisinya.

Hal ini bertentangan dengan keyakinan Brawijaya, tak sepatutnya seorang raja yang kalah dan melarikan diri medan perang menjadi tamu di sebuah kerajaan yang damai. Dia takut nasib buruknya akan menjadi karma bagi keturunan Fatah dan kelangsungan Kerajaanya. Beliau ingin mengabdikan diri sebagai resi untuk sisa hidupnya seperti halnya Airlangga dalam pelarian.

Setelah bermusyawarah dengan para sunan di wilayah Demak, Raden Fatah memilih lereng sebelah barat Gunung Lawu sebagai tanah perdikan bagi Ayahnya dan semua pengungsi Majapahit yang ingin tetap mempertahankan keyakinan agamanya. Tanah perdikan itu kemudian dikenal sebagai Karanganyar, atau desa baru.

Sebuah surat juga dikirim ke Daha, berisi sebuah peringatan bagi iparnya Ranawijaya. Bahwa Brawijaya dan tanahnya berada dalam perlindungan Demak setiap usaha penyerbuan berarti perang terhadap Demak.

Di tempat tersebut para pengikut Brawijaya tetap hidup dengan ajaran dan budaya Majapahit. Sebagai bentuk doa pada yang Maha Kuasa untuk menghentikan segala konflik di Tanah Jawa dan Keturunanya. Brawijaya membangun dua candi, Sukuh dan Cetho yang dipersembahkan pada Wishnu untuk memohon petunjuk atas segala bala yang sedang terjadi di Jawa.

candi cetho2

Noted: Kisah diatas bukan teori sejarah, tapi bagian dari Novel Perang Jawa yang masih saya edit. 😉 maklum masih belajar nulis jadi sering ditolak penerbit dan harus diedit.

Keindahan Majapahit: Sketsa Negarakertagama #8


Sketsa-sketsa ini bukan karya saya, ini berasal dari FB group pecinta sejarah Majapahit (Klik di sini) . Hak karya cipta dimiliki oleh Sdr. Tjahja Tribinuka (Alamat FB-nya)

Negarakertagama pupuh8

majapahit 11. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.

majapahit sketsa 22. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pasar, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.

majapahit 33. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.

majapahit 44. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkumpul.

majapahit 55. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat bercengkrama para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.

semoga bermanfaat, dan bisa menjadi cermin untuk kebanggaan kebesaran sejarah yang telah diukir nenek moyang kita.

Perang Jawa: Bantuan Turki menghancurkan Majapahit.


jawa moor dan china

Sunan Ngundung dan Amir Hamzah beserta sisa 35 pasukan tidak kembali ke demak, mereka berkemah di Lawu karena pantang pulang sebelum misi menaklukan Majapahit selesai. Demak kemudian mengirimkan lagi 7.000 pasukan untuk menuntaskan misi.

Di Majapahit, kemenangan terasa menyesakkan dada mereka karena tewasnya Panglima Gajah Sena. Dalam pertempuran kehilangan seorang jenderal lebih menakutkan daripada 1000 pasukan.

Brawijaya kemudian menyiagakan kembali pasukan dengan dipimpin sang putra mahkota Raden Gugur. Ini adalah sebuah blunder besar, menurunkan putra mahkota ke medan laga padahal musuh masih kuat.

Pertempuran kedua berlangsung, Majapahit kembali menang tapi Raden Gugur tewas di medan laga.

Di saat genting bantuan dari Kadipaten Wengker utusan Bathara Katong tiba. Pasukan Demak yang semula mengira mereka kawan menjadi kalang kabut karena wengker memilih membela Majapahit.

7.000 pasukan Demak akhirnya musnah ditumpas, Sunan Ngundung dan Amir Hamzah putera Sunan Wilis ikut tewas. Kabar kematian dua panglima berserta kekalahan kedua ini benar-benar membuat suasana Demak mencekam.

bendera majapahit

Masyarakat Demak diliputi isu bahwa kekalahan mereka karena melanggar wasiat Sunan Ampel agar jangan menyerang Majapahit. Mereka merasa sebagai umat yang durhaka, semangat tempur prajurit pun turun.

Karena Nusantara adalah pusat perdagangan dunia, berita kekalahan kedua Demak menyebar cepat ke seluruh dunia.

Di saat bersamaan Turki Ottoman (tahun 1500-1525) sedang gencar berekspansi di Timur Tengah  dan Asia.  Telah memiliki armada laut yang tangguh untuk bersaing dengan Bangsa Eropa memperebutkan sumber rempah-rempah.

Mereka mendapat hak eksklusif di samudra Hindia untuk melindungi rute pelayaranya. Ini adalah hadiah dari kerajaan Aceh karena Turki sponsor Aceh dalam perang melawan Batak.

Diplomasi erat Turki-Aceh inilah yang mampu membuat Aceh bertahan sampai tahun 1910. (Catatan Frederict De Houtman 1603M) Belanda baru berani menyerang Aceh saat Turki Ottoman sudah runtuh.

Melihat situasi Demak dan atas rekomendasi diplomasi Aceh serta semangat Pan Islamisme, Turki membantu Demak dengan mengirimkan pasukan dan ahli senapan dan meriam. Di kemudian hari Demak terkenal sebagai penghasil meriam terbaik di Nusantara.

meriam made in jawa

Bagi Turki, Demak sangat strategis untuk mengamankan pasokan rempah-rempah terkait persainganya dengan Portugis. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M.

Mughal di India yang tak pernah akur dengan Turki Ottoman tak mau kalah dalam mencari posisi keuntungan dalam perang Jawa. Mereka mengirim bantuan 50 ekor gajah perang.

Mughal sendiri tidak intens terlibat dalam perang karena pada saat yang sama mereka juga terlibat perang melawan Portugis dalam rebutan Goa dan Ceylon.

Semangat tempur pasukan Demak yang sempat surut karena takut kualat dengan wasiat Sunan Ampel kini tumbuh kembali melihat semangat jihad dalam diri pasukan bantuan asing.

Portugis mencatat ada sekitar 300 pasukan Turki bersenjata lengkap dalam barisan militer Demak. Melihat kekuatan Demak yang demikian kuat, Majapahit mencoba membuat aliansi dengan Portugis.

Dalam catatan Tome Pires bertahun 1512 M, Patih Udara dari Daha (Ibukota terakhir Majapahit) mengirimkan seperangkat gamelan dan kain batik pada penguasa Portugis di Malaka.

Kabar ini semakin menguatkan tekad Demak untuk menginvasi Majapahit. Semangat jihad dan anti Portugis membuat gelora Demak membara.

Dukungan pasukan multinasional dan artileri berat tercanggih di zamanya. Serbuan pamungkas Demak ke Majapahit ini seperti kisah film “The Last Samurai” dalam bayangan saya.

Sebuah peradaban agung bernama Majapahit yang mencoba bertahan dengan sisa-sisa kekuatan karena perang saudara, dihancurkan dengan meriam dan mesiu.

Lumrah bila di hari ini sangat susah menemukan warisan bangunan monumental dari peradaban Majapahit.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Artikel sebelumnya:
Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah

Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah


Dalam sejarah di belahan dunia mana pun, selalu terjadi perang antara masyarakat yang lebih maju peradaban dan yang lebih primitif. Ada dua model perang seperti ini, pertama pelakunya masih satu ras seperti suku Maya dan Aztec yang menindas suku-suku lainya, seperti di film Apocalypto.

apocalypto-7Yang kedua adalah model penjajahan seperti nasib bangsa Aborigin di Australia dan Indian di Amerika, serta juga suku Maya dan Aztec di tangan Spanyol. kualat!

Perang Jawa adalah perpaduan kedua model di atas, di satu sisi merupakan perang antara ras suku Jawa tapi di sisi lain ada infiltrasi dogma dan ideologi dari luar. Bisa juga disebut merupakan perang India ke-2, atau lanjutan perang India tapi terjadi diluar India.

Kondisi politik di Jawa tahun 1500masehi sedang terpecah menjadi dua kutub, utara dan selatan. Yang di pesisir utara sudah memeluk agama Islam yang dibawa para pedagang dari India dengan Demak sebagai representasi kerajaan. Sedang mereka yang di selatan masih tetap menganut Hindu dan tunduk pada Majapahit.

Secara ekonomi, tahun 1500 M adalah tahun kejayaan Kepulauan Nusantara. Nusantara menjadi penyuplai sekaligus pusat perdagangan komiditas dunia terpenting yaitu rempah-rempah. Nilai rempah-rempah saat itu seperti minyak bumi saat ini.

Dalam catatan Portugis bertahun 1480 M, pendiri Demak adalah orang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko Po yang kemudian digantikan putranya yang bernama Pate Rodim. Walau berasas Tionghoa, Demak kemudian lebih akrab dengan kerajaan Mughal di India karena hubungan perdagangan dan ideologi agama. Ditambah lagi fakta bahwa Mughal selalu berusaha melebarkan kekuasaan ke wilayah China sebagai bagian dari wasiat Timurlenk. Dan mungkin juga karena ada pergantian Dinasti di China pada awal tahun 1500-an, Han ke Ming.

Keakraban Demak dan Mughal-India semakin mengental ketika perang salib berlangsung dan berlakunya embargo rempah-rempah ke Eropa. Jalur rempah-rempah pada masa itu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam, mulai dari timur tengah sampai sebagai pemasar ke Eropa sampai India dan Nusantara sebagai sumber rempah-rempah.

Aksi embargo itulah yang akhirnya memaksa Bangsa Eropa berlayar mencari sendiri sumber rempah dan melakukan kolonialisasi.

jawa moor dan chinainteraksi antara orang Moor, Jawa dan China.

Mughal mewarisi semangat Timurlenk dalam menyebarkan Islam. (Masih ingat kan? atau klik di sini) Dinasti Islam India sebelum mughal, ditumpas habis oleh Timurlenk karena tidak terlalu agresif menyebarkan Islam pada penduduknya. Demak selalu mendapat provokasi dari Mughal untuk menyebarkan Islam ke seluruh Jawa, bila perlu Majapahit ditumpas sekalian.

Provokasi semakin gencar ketika Kesultanan Ottoman Turki juga mulai masuk ke Demak, Turki dan Mughal tidak pernah akur karena sejarah Timurlenk.  Mughal ingin terus menjaga kedekatan dengan Demak karenanya dia ingin tampil sebagai pahlawan dalam perluasan wilayah Demak.

Para sunan yang saat itu kedudukanya sebagai penguasa wilayah (setara gubernur), panglima perang sekaligus pemimpin spiritual sudah berkali-kali mengadakan musyawarah dan menyetujui untuk menyerang Majapahit. Tapi selalu saja kandas karena tidak mendapat restu dari ketua para sunan, yaitu Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim.

Sunan Ampel yang berkuasa di Surabaya, selalu menolak usulan itu. Dia selalu beralasan bahwa Majapahit bukan negara harby yang mengobarkan perang ataupun menjadi ancaman pada Demak, lagipula di dalam kekuasaan Majapahit orang-orang Islam bisa hidup dengan damai, maka tidak ada pembenaran Syar’i untuk memeranginya.

“Jeng Sunan Ngampel mambengi, mring para wali sedaya, lawan putra sedayane, rehning prabu Brawijaya, among sesadyanira, mring para wali sedarum, pinadekkaken kewala”
(Sunan Ampel melarang semua para wali begitu juga semua putranya, karena Prabu Brawijaya menjaga para wali semuanya, membiarkan saja apa yang dilakukan para wali itu)
Sumber: Kitab Wali Sana – Babadipun Parawali yang bersumber dari Sunan Giri II. ditulis ulang dan diterbikan oleh Penerbit dan Toko Buku “Sadabudi” Solo, 1955

Setelah Sunan Ampel wafat, perang akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Raden Fatah, Raja Demak saat itu yang sebenarnya putra mantu dan aslinya kelahiran Majapahit pun tak sanggup membendung nafsu perang.

Setelah musyawarah para Wali dan disetujui Raden Fatah, agresi pertama Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung dengan 7.000 pasukan dan 40 modin dengan wakil panglima Amir Hamzah putera Sunan Wilis.

Agresi militer yang pertama ini pecah perang di daerah Tunggarana.  Pasukan Demak dihadang 11.000 pasukan Majapahit yang dipimpin Panglima Gajah Sena. Walau akhirnya sukses menumpas Demak, tapi Majapahit kehilangan sang Panglima Gajah Sena.

Demak akhirnya mundur dengan pasukan tersisa cuma 35 orang, tapi Majapahit walau sepertinya menang tapi kehilangan panglima perang adalah pukulan telak bagi pertahanan kerajaan dalam menghadapi agresi militer kedua dari Demak.

Keputusan Demak berperang ini tidak serta merta ditaati oleh semua orang Islam di tanah Jawa. Bathara Katong yang berkuasa di Ponorogo (1485-1525M) menolak perang ini karena itu adalah melanggar wasiat Sunan Ampel. Di Agresi Militer ke II, Bathara Katong lebih memilih berperang dengan Majapahit melawan Demak.

(Bersambung ke link di bawah ini:

Perang Jawa: Bantuan Turki Menghancurkan Majapahit
*Untuk Artikel sejenis, bisa di klik di ping balik di kolom komentar, trims.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Apa Makanan Pokok Kakek Nenek Moyang Kita dulu?


Iseng-iseng sambil ngobrol tentang sejarah peradaban bangsa, eh lha kok tiba-tiba topiknya bergeser ke “Apa makanan pokok bangsa Indonesia di zaman jaya dulu?” Eh emang sekarang enggak jaya ya? 🙄

1483300_487196201392911_1029411294_nMakanan pokok erat kaitanya dengan kejayaan sebuah bangsa, karena dia adalah energi yang menggerakkan individu/rakyat di sebuah wilayah untuk menghasilkan suatu karya. Nagh leluhur Bangsa Kita yang tercinta ini, baru kita ketahui sebatas kerajaan Kutai bertahun 300Masehi belum sampai ke tahun Sebelum Masehi.

Bila saat ini masyarakat mengkonsumsi beras tiga kali sehari, maka itu adalah murni hasil dogma dan doktrinisasi era Orde Baru. Di era tersebut, aneka makanan pokok selain nasi dari beras dikonotasikan sebagai makanan melarat, kismin, makanan penderitaan dll.

Padahal di era tersebut masyarakat jamaknya mengkonsumi Thiwul-Ketela dan Jagung sebagai makanan pokok. Jadi kalau sekarang Indonesia kekurangan beras karena masyarakatnya rakus nasi ya wajar. :mrgreen: naghh sekarang digalakkan gerakan “membenci” nasi beras.

P2KP1Jadi si beras bukan pangan lokal gitu? 🙄 aya-aya wae menteri dari PKS ini, terus klo sapi sukanya impor gitu

Lalu bagaimana dengan Ketela? Ketela Pohon dan Ubi Rambat?. Ketela Pohon berasalnya dari Amerika selatan, dikenalkan di Nusantara oleh Portugis pada abad ke-16 dari Brazil, ketika itu Brazil jadi ibukota Portugis.

Lalu pada tahun 1800-an, Belanda memaksa penduduk Nusantara untuk menjadikan Ketela sebagai bahan pokok dan menyerahkan padi-beras sebagai pajak ke Belanda.

Lalu bagaimana dengan Ubi Jalar/kereta jalar. Walau ada pendapat yg menyatakan berasal dari Papua, tapi teori yg populer di kalangan ahli tetap berpendapat bahwa asal muasalnya juga dari Amerika Selatan dan pelaku penyebaranya adalah Spanyol.

Lalu apa dong makanan pokok nenek moyang kita sehingga mereka bisa membangun monumen kemegahan seperti Borobudur?

Susu Sapi serta Bahan Olahan dari Susu, dan juga daging sapi.

borobudurRelief Sapi sebagai sumber kehidupan di Borobudur.

Sepertinya nenek moyang kita zaman dulu itu sudah bisa swasembada sapi. Minuman sehari-hari mereka adalah susu sapi, dan sarapanya pun pake keju dan mungkin yoghurt. Mereka juga mengkonsumsi daging sapi sebagai makanan pokok dan nasi sebagai makanan pendamping. Catat!, nasi sebagai lauknya, bukan sebaliknya. atau mungkin hanya mengkonsumsi nasi 1 kali sehari seperti di India.

Jadi!, mungkin mereka sarapan pagi dengan segelas susu segar dan keju. Lalu baru ketika makan siang menyantap nasi ()

Bandingkan jaman sekarang yang generasi mudanya malah minum oplosan :mrgreen: dan makan nasi dua piring tapi lauknya cuma secuil daging. 😦

Bukti betapa melimpahnya populasi sapi di masa dulu bisa dilihat dari tulisan yg ditinggalkan prasasti kerajaan Kutai di Kalimantan. Yang menceritakan kedermawanan Raja Mulawarman karena menyedekahkan 20.000 ekor sapi untuk kaum Brahmana. (lihat di wikipedia sejarah Kutai) atau disini (klik disini)

Bila mampu menyedekahkan 20.000 ekor sapi, berarti sang Raja Mulawarman punya lebih dari 20.000ekor sapi. Bila itu 10%nya  maka berarti sang Raja punya 200.000 ekor populasi di kerajaanya. Bila penduduk Kutai berjumlah 500-ribu jiwa berarti ada 1 ekor sapi untuk 2orang.

Dalam tradisi Hindu di India, daging sapi memang tidak dikonsumsi, tapi dalam tradisi Hindu di Nusantara sepertinya sapi tetap dikonsumsi seperti kasus di Bali, mungkin hanya kasta Brahmana saja yang mengikuti tradisi di India.

Secara hitungan ekonomis pada zaman tersebut, biaya membuat peternakan Sapi lebih mudah dan murah dibanding membuka hutan untuk membuat sawah dan ladang. Sapi juga tidak memerlukan saluran irigasi yg rumit. Jadi Sapi adalah sumber makanan yang murah dan mudah.

Kerajaan Kutai sendiri bertahun abad ke-4 masehi berarti sekitar tahun 300-an. Lalu bagaimana dengan populasi sapi di Jawa? Kurang lebih sama dengan di kerajaan Kutai-Kalimantan. Populasi Sapi hancur ketika Jawa terlibat perang besar berlandaskan ideologi agama abad ke 17M.

meriam made in jawa

Perang Aliansi kerajaan Islam vs Aliansi Kerajaan Hindu itu menghancurkan hampir semua sendi kehidupan di Jawa. Karena itu adalah perang pertama di Jawa yang memakai artileri mesiu, setelah perang Jawa seperti CPU komputer yang direstart. 😦

Demak pada masa itu mampu dan terkenal sebagai produsen aneka macam senjata berbahan mesiu, merian dan bedhil. Ditambah dengan bantuan amunisi, finansial dan kavaleri Gajah dari kerajaan Mughal di India. (dilanjut di artikel khusus mawon)

Walhasil, Sapi juga turut menjadi korban, bahkan mungkin yang terparah selain terbunuh juga sengaja dibunuh sebagai harta rampasan perang dan konsumsi prajurit. Karena pihak yang menang adalah masyarakat pesisir yang tidak faham peternakan sapi. Sejak itulah budaya budidaya sapi dan bahan olahan sapi musnah dari peradaban Nusantara.

Masyarakat pun kemudian hanya mengenal beras, gaplek, telo, jagung, thiwul dan aneka makanan lain yang dijejalkan oleh para penjajah untuk melanggengkan nafsu imperialisme, bukan makanan para leluhur kita.

Mungkin di alam sana, para leluhur kita menangis melihat anak cucunya harus mengemis-ngemis ngimpor sekarung ketela padahal mereka dulu bersusah payah menaklukan banteng-banteng liar agar menjadi sapi sebagai sumber bahan makanan.

peta-sejarah-nusantara

Agresi Militer Islam (2): Walisongo, Panglima Perang Berjumlah Sembilan


Pada akhir abad 15 (akhir 1400M) kekuatan Majapahit telah rapuh, bahkan pengaruhnya didaerah pesisir utara jawa sudah punah. Penguasaan pada bandar-bandar perniagaan sudah absen. Pusat kerajaan juga terdesak jauh ke dalam Pulau Jawa (Daha-Kediri).Sirna Hilang Krtaning Bhumi … Hilang ke dalam perut bumi. (terj. lain:Hilangnya kerajaan Bre Kerthabumi)

Di daerah kosmopolitan niaga seperti Banten, Gresik, Demak dan pesisir utara jawa. Image, Orang Majapahit pada era tersebut tak ubahnya kaum primitif di pedalaman.

Ilustrasi yang dilukis oleh saudagar Denmark J.P. Cortemunde tahun 1673. Tentang gambaran orang Moor Islam (Arab/India/Persia), Jawa dan China.

Baca lebih lanjut

Majapahit antara Fakta, Legenda dan Ilusi?


Prolog dulu ya … Fakta: adalah nyata adanya, sedang Legenda adalah cerita atau dongeng rakyat yang belum tentu benar adanya dan berkaitan tentang asal muasal, sedang Ilusi adalah tipuan yang sengaja dibuat untuk mencapai suatu tujuan.

Dalam pelajaran sejarah, Majapahit selalu disebut sebagai “pilot project” tentang persatuan kepulauan Nusantara untuk menjadi satu Indonesia. Bahkan di tahun 1960-an dijadikan alat pembenar bagi Soekarno untuk memerangi siapa saja yang tidak setuju tentang konsep Negara Kesatuan (bukan Indonesia nya lho ya). Sampai-sampai Malaysia pun siap diganyang karena “kabarnya” juga masuk terpeta dalam kekuasaan Majapahit zaman dulu. Sehingga nggak berhak berdiri sendiri.

JUPe adalah termasuk orang yang “ambigu” terhadap kebesaran Majapahit yang digembar-gemborkan. sah-sah saja to…toh yang ada sekarang ini baru sebatas “teori” bukan fakta aktual arkeologi-antropologi. Teori kan bisa gugur jika ada hipotesa baru yang layak dijadikan teori.

1. Jejak Arkeologis

Jika benar majapahit sedemikian besar seperti yang disebut dalam buku sejarah. Kenapa nggak satu pun ada bangunan monumental yang ditemukan. Ingat!, era Majapahit adalah era kemaren sore (rubuh tahun 1519M) baru 480 tahun yang lampau. Baca lebih lanjut