Arsip Tag: marketing

Masih percaya? Boneeto Susu Berkalsium Paling Tinggi?


Sesuai tema iklanya, Fonterra selaku produsen Boneeto mengklaim dirinya sebagai susu tinggi kalsium yang bisa membuat anak tumbuh lebih tinggi. Apa memang benar demikian adanya?

Ada dua hal yang sangat ditakuti kaum ibu di zaman sekarang. Pertama, jika anaknya tidak lebih pandai daripada temanya (baca: bodoh). Kedua, jika anaknya lebih pendek daripada temanya. Tapi realitanya, point kedua lagh yang lebih ditakuti kaum Ibu.

Walhasil ketika mencari produk susu berkalsium tinggi, Boneeto adalah pilihan utama kaum ibu. Padahal bila dicermati dan diteliti, kalsium dalam susu merek Boneeto bukan yang tertinggi. Jadi ada yang lebih baik dari Boneeto?

Benar!. Di kisaran harga yang sama, produk Nestle Dancow 3+ lebih banyak kalsiumnya. Berikut foto perbandingan kalsium dari dua produk ini.

image

Dancow 3+ : dengan takaran per saji 30gr bisa didapatkan kalsium 60% dari AKG (Angka Kecukupan Gizi)
Boneeto : takaran per sajinya 35gr cuma dapat kalsium 50% dari AKG.

Selain kalsiumnya lebih tinggi, Dancow 3+ juga lebih banyak kandungan nutrisinya.
Ada DHA untuk nutrisi otak
Serat pangan yang terdiri dari FOs dan Inulin
Lactobacillus Protectus untuk pencernaan

Kandungan Omega3 dancow 3+ juga lebih banyak (117mg)  sedangkan Boneeto cuma (42.4mg). Begitu juga dengan omega6 (asam linoleat) dancow 3+ (960mg) sedangkan Boneeto cuma (89.2mg)

Naghh bagaimana? masih percaya dengan iklan di TV?
Semoga bermanfaat dan tidak tertipu lagi iklan di TV.
Happy parenting.

Vitalac: Produk bagus tapi Iklanya Bodoh, Gak laku dehh


Vitalac adalah susu formula premium yg lagi coba di rebranding sama produsenya. Denan kemasan dan tagline baru.

Tapi sayang iklanya malah terlihat O’on . Sebenarnya konsep iklan yg mirip dengan bebelax itu sudah bagus, tapi yaa itu tadi.

Beberapa waktu lalu, di sbuah pusat perbelanjaan ada percakapan lucu antara SPG vs seorang Ibu.

SPG: “ibu biasa pake susu xxx, bagaimana jika ibu coba produk baru kami”
Ibu: “apa merekna?”
SPG: “Vitalac bu, itu lho yg lagi gencar iklanya di tv”
Ibu: “oooo si susu oon itu!!”
SPG: “kok oon bu?”
Ibu: “ya iyalah oon, sejak kapan J dibaca L”
SPG: #&%+#*#&#+#

Tagline Vitalac yang “walk this way” emang ditulis “WAJK THIS WAY”

Bila membidik pasar ibu-ibu. Jangan sekali kali produk anda terlihat o’on. Apalagi yg menyangkut masa depan anak.

Ibu zaman sekarang lebih takut anaknya bodoh daripada sakit.

Walhasil di beberapa pasar swalayan saya menjumpai produk vitalac diturunkan dari rak karena kurang laku.

image

Melihat target penjualan, NMP ditujukan Niche Market, awas bisa booming


meagapro AHM_02

Niche Market adalah suatu target pasar yang unik, market/sasaran pasar ini kecil, tidak banyak, tapi fanatik dan memang sangat dibutuhkan konsumen. Walhasil kalau digarap serius distribusi tetap bisa lancar dan malah bisa booming.

Melihat target penjualan NMP yang cuma 5.000 ekor / bulan, padahal rata-rata per bulan 2013 bisa 8.000 ekor/bulan. Lalu kenapa dengan desain yg fresh dan lebih bagus kok malah turun target salesnya?

Ada dua kemungkinan?
Pertama, karena AHM sengaja mengurangi produksi NMP untuk digenjot memproduksi motor lain. Bisa New Tiger atau All New CS1.

Kedua, karena AHM sengaja memasang NMP di pasar celah (Niche Market). Yaitu pasar yang tidak digarap oleh kompetitor.

Saya kok curiga pada asumsi kedua, AHM sengaja memasang NMP pada niche market. Yang susah kemudian mengindentifikasi celah pasar yg manakah yg dibidik AHM?

Jika targetnya adalah korporasi, yaitu sebagai kendaraan dinas harian perusahaan atau perkebunan, kok sepertinya lebih efisien ke Verza. 😉

Entah yg mana target AHM untuk si NMP? yang pasti produk niche market itu aweet dan tahan lama. Bahkan terkadang bisa booming nge-trend, ini yg kudu diwaspadai oleh kompetitor.

Contoh produk di segmen ini yang awet, tahan lama, laris manis dan kagak ada matinya. Minuman green_sand.

green sandIni bukan soft drink tapi juga bukan bir. Embuh minuman opo pokok’e enggak ada label haram. :mrgreen:

Big Cola, dari Peru mengguncang Coca-Cola di Indonesia


image

Bila di dunia ada pertempuran abadi tom and jerry, antara Coca-Cola vs Pepsi. Sekali lagi Indonesia menunjukkan anomali.

Di sini Pepsi bisa dibilang gak berkutik, modar terkapar melawan Coca Cola.

Nagh ketika seorang jawara kalah melawan jawara, eh muncul si ‘kupret’ dari negeri yg super jauh dari di Amerika Selatan. Datang tiba-tiba, tapi sukses menohok si jagoan.

Big Cola, merek yang muncul beberapa tahun yg lalu itu sukses merontokkan penjualan Coca Cola, halmyg tidak bisa dilakukan pepsi.

Sebelum ngomongin strategi, monggo kita bahas dulu sejarah Big Cola.

Big Cola diproduksi AJE asal Peru.
Big Cola bukan asli Indonesia, ini merek produknya AJE asal negara Peru. Macchu pichu.

Aje group mulai berdiri tahun 1989, ketika masa perang sipil di Peru. Ketika masa itu, banyak perusahaan termasuk Coca Cola dan Pepsi menghentikan produksinya di Peru. Takut sama peluru nyasar kali.

Situasi ini dimanfaatkan oleh keluarga Ananos, yang pada masa itu punya sebuah kedai minuman untuk mencoba meracik minuman cola sendiri. Sebuah peluang ditengah langkanya softdrink di pasaran.

Awalnya minuman tersebut hanya dipasarkan di kedai dalam bentuk gelas, ternyata rasa dan aroma Big Cola banyak yang suka. Lalu mulai  dikemas dalam bentuk botol dan dorrr penjualanya meledak. Tentu hal tersebut juga dikarenakan absenya Coca Cola dan Pepsi karena takut perang. 🙂

Walhasil, setelah masa perang usai dan damai. Ekspansi Big Cola dilakukan ke seluruh pelosok negeri dan sukses.

Saat ini Aje Groop sudah berekspansi ke Seluruh negara wilayah di Amerika Selatan, India dan yang terbaru mampir Asia Tenggara dengan pusat komando di Indonesia.
image

Strategi Bisnis
Aje sepertinya sadar bahwa masalah utama dalam bisnis di Indonesia  adalah distribusi. Ada tiga pendekatan yg biasanya diambil produsen di Indoneisa.
1. Mendistribusikan sendiri produknya seperti Wings Group, tapi butuh modal besarr
2. Merangkul distributor tingkat nasional seperti Unirama/Savoury/ Indomarco, tapi biasanya klo bukan produk dari babe perusahaan tersebut bakal dianaktirikan. Contoh kasus Pepsi yg dipegang Indomarco, susah nyampe ke daerah barangnya.

3. Merangkul Distributor-grosir tradisional. Resikonya, banyak kredit macet, tapi Aje percaya dan berani mengambil resiko. Dengan dukungan iklan gencar, asal produknya tersedia sampai pelosok negeri pasti orang mau beli.

Dan Blaar, pilihan Aje benar.

Coca cola pun panik!. Mencoba menghadang dengan botol seru seharga rp.3900 tapi lebih sering dijual toko 4500. Mencoba menghadirkan varian baru dengan tiga ribu perak lewat Fanta Fresh.

Apakah Big Cola akan sukses menggusur Coca-Cola di Indonesia? Ya enggak sampai segitu lah. Big Cola – Aje hanya akan menjadi kerikil tajam dalam sepatu CCAI (CC Amatil Indonesia). Yang mungkin hanya bisa menyebabkan amputasi pada portofolio produk CCAI

Konsumen sekarang akan punya dua opsi ketika memilih minuman Cola, pilih Coca atau Big?
image

Indomie vs Mie Sedaap : Bedjo is being prepared


Gambar

Akhir ini sering banget iklan si Bedjo, sampai-sampai anak sekolah pun berani membantah gurunya, “Ah ngapain pinter pak, kan yang penting bedjo” 😦 tv oh tv. Bedjo dalam definisi si penantang penolak angin adalah gak perlu pinter, dan nasibbnya, si iklan Bedjo ternyata emang gak bedjo, karena lawanya udah keburu pinterr.

Kasihan banget!!!, dulu pake Brand Bintangin enggak jadi bintang, sekarang gak jadi bedjo, mungkin entar tu produk diganti nama aja jadi Bedjongin. :mrgreen: lain waktu kita ngomongin perusuhan yg ini. 😉

Ngomong ngobrol soal produsen penantang yg selalu sukes, itu adalah tentang Wings Food. Kali ini kita ambil contoh “Mie Sedaap” saja. Walau yg hot terbaru si “Top Kopi”

Sukses dalam filosofi Wings Food adalah Persiapan yg matang. Research untuk sebuah produk 100% baru minimal 2 tahun 8O. Lalu distribusi produk dilakukan 3 bulan sebelum iklan di media massa. Sesuatu yg tidak pernah ditiru produsen kakap lainya.

Mie sedap lahir tahun 2003, sepuluh tahun kemudian di wilayah plat-AE (Madiun-Magetan-Ponorogo) saya berani memprediksikan bahwa market share-nya mencapai 80%. Wah kok bisa yakin?, bisa dilihat kasat mata saja, bahwa di toko-toko kelas Grosir, yg ada hanya tumpukan kardus Mie Sedaap, bukan Indomie.

Hebatnya lagi, Mie Goreng ya Mie Sedaap Goreng, saat toko kehabisan stock Sedaap disodori Indomie ya pembeli tetap aja mlipir pergi. 😦 Di saat ramadhan-lebaran, harga sekardus Mie Sedaap bisa naik sampai 5.000/karton sedangkan Indomie tetap adem ayem.

dalam kurun 10 tahun, si Sedaap ini sukses menggulung Indomie baik dalam hal penjualan maupun sebagai ikon mie instan. Apa kira-kira kunci suksesnya?

sebagai komentator cuma bisa meraba-raba sebagai berikut: 1. Persiapan pra produksi Soal yg satu ini, wings food sangat teliti dan ketat. Kabarnya untuk mie sedaap saja risetnya 2 tahun. Wuih apa enggak keburu diambil kompetitor tuh peluangnya? ya tidak, karena wings selalu memposisikan dirinya sebagai penantang, bukan pionir.

Lihat dalam klasifikasi produk wings, kebanyakan (bahkan semua) produknya adalah menembak sang penguasa pasar atau pionir produk. Inovasi mereka ya kurang lebih ATM-SLB, Amati-Tiru-Modifikasi dan Selalu Lebih Baik. Artinya, semakin banyak pesaing di segmen itu, wings akan semakin bergairah. Benar-benar petarung sejati.

Nagh, bisa dilearned buat yg sedang mengumpulkan modal untuk usaha! 1) Persiapan modal dan market yg dituju harus matang bukan asal sambet aja, 2)jangan takut ide kita didahului orang, karena pengekor juga bisa sukses kok asal jangan asal ATM tapi juga harus SLB. Siap Luar Biasa.

2. Persiapan Pemasaran

Produsen besar lain, seperti Unilever dan Indofood. Mereka memilih untuk mempromosikan dulu produk barunya dengan gencar, ehh baru deh distribusi barangnya, terutama ke daerah macam saya ini.

Lha walhasil, konsumen kecewa karena cuma bisa ngiler lihat iklan, beda kasus dengan Wings. Saat melihat iklanya, konsumen bukan pada tahap penasaran tapi membenarkan. Oh ya bener ternyata mie sedap lebih kenyal, lebih kriuk-kriuk, karinya lebih terasa dan begini-begitu. soo tujuan iklan group wings selain pengenalan produk adalah sugesti

Learned, lebih bijak untuk mengutamakan alokasi modal untuk ketersediaan barang daripada promosi gede-gedean tapi barangnya belum ada. 😉

Di segmen retail, jika dana terbatas dan dihadpkan dua pilihan rak/etalase atau barang dagangan, pilih opsi untuk belanja barang dulu, soal display bisa diakali

3. Identitas Produk

Walaupun mie sedaap ini produk yg mengekor Indomie, tapi diferensiasi yang mereka tawarkan menjadikannya lebih terkenal. Bawang goreng kriuk-kriuk, Kari kuah kental, koya gurih dan sentuhan bakso mini untuk yg versi cup.

learned Jangan pernah takut membuka usaha pada tempat yg sudah ramai dengan pesaing. Wings selalu memilih untuk menjadi penantang di pasar yg ramai daripada disebut inovator di tempat yg sepi.

Garnier: Pindah Pabrik ke Indonesia, langsung moncerrr


Dari foto diatas, Garnier L’Oreal seperti mengajarkan kepada Yamaha bagaimana caranya menghadapi sang penguasa pasar. Pindahin Pabrik dan RnD ke Indonesia, tambahkan value, bikin kemasan dan ukuran produk yang sama,  desain lebih menarik …. eitt, walau tetap kalah jumlah varian, no problem Baca lebih lanjut

Art of Sale … The Gift vs The Spirit


Setiap orang terlahir dengan bakatnya sendiri, maksud dan tujuan Tuhan untuk memberi bakat yang berbeda pada setiap makhluqnya sudah jelas … untuk keseimbangan. Nggak mungkin lah, semua orang bakatnya jadi pembalap, lha ntar yang jadi Burgess siapa? :mrgreen:

Kondisi perekonomian Indonesia yang secara makro cukup menggairahkan,  ternyata berdampak banyak pada orang-orang kaya baru yang memaksakan bakatnya. Diantaranya kaum ekspatriat Indonesia (baca TKI/TKW) yang pulkam, eksekutif muda yang pensiun dini , Tenaga kontrak profesional yang bosen selalu memperbarui kontrak padahal gajinya gede, dll

Biasanya mereka-mereka ini ingin menyandang status “Pengusaha” agar bisa bebas menikmati waktu dan katanya … Agar uang bisa bekerja, dan ngasih gaji ke orangnya … apa iya? 🙄

Buka usaha apalagi dengan membeli waralaba atau franchise emang jalan yang paling mudah untuk bisa memiliki bisnis dan menyandang status pengusaha. Tapi masalahnya, kenyataan nggak selamanya seperti iming-iming franchiser. Dan yang paling penting, nggak semua orang diberkati tuhan dengan bakat menjual. Baca lebih lanjut

HONDA DBL 2011 … starting now!


Adakah even kelas pelajar yang kehebohannya mengalahkan even profesional? … Ada, dan jawabnya adalah HONDA Development Basketball League (DBL) . …Yup even basket sekelas Indonesian Basketball League (IBL) aja pada akhirnya harus menyerah dan meminta DBL untuk menjadi penyelenggara … yang kemudian memaksa berubah jadi NBL 😀

Percaya deh, tanpa support total Honda, even basket yang sebelumnya bernama Deteksi Basketball League (DBL) ini nggak akan bisa sebesar sekarang … digelar di 22 kota (new.. Padang) dan di 19 propinsi dengan penonton hampir setengah juta jiwa… maklum CEO DBL Azrul Ananda sangat selektif dan idealis dengan idenya:

Tidak boleh ada pemain profesional atau semipro, tidak boleh ada sponsor rokok, alkohol, dan minuman berenergi dan tidak akan membawa kompetisi ini ke Jakarta

Investasi Honda di even ini sangat tepat, masa panennya emang bukan sekarang.. maklum, pemain dan penonton masih kelas SMA. Tapi 5-10 tahun yang akan datang. Saat mereka sudah mentas dari bangku sekolah, saat mereka sudah bisa membeli motor untuk diri sendiri, istri, atau mungkin malah untuk anak dan cucu

Kenangan manis saat di bangku SMA bersama Honda di Arena DBL akan sangat membekas dan mempengaruhi subyektifitas ketika memilih suatu produk. Efeknya lebih dari kenangan saat Rossi pernah jadi Juara bersama Yamaha.

Jika dihitung secara angka sejak Honda mensupport DBL sejak 2008, maka sudah ada 2juta remaja yang menonton acara ini. Ditambah lagi public figure yang menjadi ambassador product Honda yang muda-muda macam Cinca Wauwa, Agnes, Nidji, dan Vierra …

bersiaplah jika beberapa tahun kedepan, justru Yamaha yang imagenya berubah menjadi Motor Bapak-bapak dan Kakek Nenek karena ambassadornya yang tua-tua macam Didi Petet dan Dedy Mizwar :mrgreen:

PRODUSEN MOTOR nggak harus selalu tentang MOTOR


Ada sebuah komen yang masuk, dan cukup pedas juga mengatakan bahwa ngapain juga perusahaan motor harus mikirin yang non motor bla bla bla bla blukutuk

Kalau orang jual nasi pecel, emang seharusnya nggak jual sate kambing, kasihan ntar … repot :mrgreen:

Orang yang suka naik motor, belum tentu suka dengan balap motor, begitu juga dengan orang yang suka sepakbola, suka basket bahkan yang suka naik motor mungkin aja dia nggak suka nonton balapan MotoGP tapi lebih seneng dengan F1 … maka nggak heran kalau Yamaha malah disponsori perusahaan mobil (Fiat) … nggak nyambung to? 😀

Nagh, di era marketing 3.0 ini, jika perusahaan tidak membangun antusiasme dan fanatisme merek dengan memanfaatkan fanatisme di luar produknya. Dijamin bakal dedel duel digilas pesaing.

Honda lebih sigap dengan menggandeng PERSIB BANDUNG dan AREMA MALANG di sepakbola, dan yang paling heboh jelasss DBL alias DETEKSI BASKET LEAGUE … satu-satunya kehebohan yang nggak akan menginjak Jakarta (kata CEO-nya lho) … piss :mrgreen:

Untungnya jelas banyak, kan kata pembesar Yamaha, hanya 2% aja orang Indonesia yang suka ngebut … hehehehe

AREMA dan PERSIB adalah identitas bagi daerahnya, jadi ya mungkin aja kan orang milih Honda karena Honda peduli dengan kebanggaan daerah tersebut … yang dahsyat jelas DBL, liga basket remaja terbesar … Honda sadar baahwa image mereka di masyarakat adalah motornya bapak-bapak dan aki-aki 😀

Naghh, karena Basket identik lebih berkelas dibanding sepakbola dan lebih macho dimata remaja putri, apalagi kalau pemain, pelatih, penonton dan semuanya yang terlibat di DBL adalah anak muda…jelass Honda sedang menggarap fanatisme mereka sejak dini (SMP-SMA)…sambil berkata, yang lain jadul aghhh

YAMAHA yang sudah kadung lekat motornya anak gaul pun nggak berdiam diri, dengan menggandeng Stasiun TV mereka menyeponsori ajang cari bakat penyanyi … CMIIW

KLo boleh usul, baiknya Yamaha pasang sponsor di persija saja, kan kata orang P** menang di Jakarte berarte menang di Indonesia … toh biaya pasang sponsor di tim sepakbola lebih murah daripada budgjet iklan di TV. apalagi klo atasnama main distributor seperti kelakuan Honda, lewat MPM Motor untuk nongol di Arema dan lewat Daya Mustika untuk PERSIB

PERSIB sendiri, selalu disponsori perusahaan yang berbau motor CORSA .. EVALUBE … HONDA …

sumber foto klik

Naghh di saat rehat MotoGP dan WSBK, tentu nggak ada salahnya, malah sudah seharusnya para pabrikan motor semakin mendekatkan diri kepada masyarakat dalam bidang lain…masak kalah sama TiPhone yang jadi sponsor DIVISI UTAMA

Yang bodoh ya tetap si SUZUKI… punya even kok malah adem ayem

 

Property itu Roti (Busuk)


Miris juga lihat nasib beberapa rekan EU (Entreprenuer University) yang saat ini sedang kolaps. yah, sebenarnya seh saya nggak menyalahkan ilmu yang mereka serap di EU, karena toh itu hanya salah satu kesalahan pengamalan saja….may be

Salah satu doktrin yang sebenarnya saya kurang sreg di EU adalah perkara properti ini. hmmmm. Begini, salah satu suhu mentor EU sudah menegaskan, Bisnis dulu baru properti.

Dan properti pun harus selangkah demi selangkah, nggak bisa langsung jadi developer…karena kalau sudah di developer harus punya seni menjual diri, lain waktu saja saya bahas soal jual diri

Saya sendiri termasuk orang yang sangat anti dengan properti untuk tujuan Investasi jangka panjang…tapi kalau untuk tempat bisnis oke laghhh….emang mau kaki lima, hehehe

Selama ini orang bilang kalau Rahasia Tuhan itu ada 3 tapi Bagi saya, Rahasia TUHAN itu ada 4… Mati, Rizki, Jodoh dan PROPERTI ….hehehe kok bisa?

Orang menjual rumah itu nggak bisa disamain dengan jual tempe atau motor. Susssaaahhnya setengah mampussss, maka nggak heran kalau di iklan ada istilah BU CPT SGT … Butuh Uang Cepat Sangat

dan jika sudah BU CPT SGT itu berarti properti itu sudah sangat lama nampang di koran dan udah bosen di tulisi “dijual”…dan biasanya, klo udah sampe difase ini, si penjual udah gak perduli lagi dengan nilai inflasi dan aneka biaya lainya….pokoknya cepat laku..dan dijual dibawah harga pasaran.

Contoh, beli tahun 1990 seharga 60 juta, dijual BU CPT SGT seharga 150juta….kelihatanya emang untung, tapi jika dihitung pake inflasi + biaya …. yo rugi rek..lha wong 60 juta tahun 1990 bisa beli  grand civic baru…nah..150 juta sekarang dapat mobil baru apa?…

Seerem…coba aja lihat iklan-iklan di surat kabar tentang tanah/rumah yang dijual, passti ada iklan yang udah berumur lebih dari 2 tahun….

Yang lebih disayangkan lagi, setelah kelar dari EU, mereka ini langsung bergaya jadi developer….mas, mbak, pak de…nggak usah termuluk-muluk dengan kesuksesan para mentor atau besarnya hutang para senior

Pendapatan bersih sehari 30 ribu tanpa hutang, itu lebih enak daripada 5 juta per bulan tapi menanggung cicilan setengahnya….apalagi kalau 30 ribu itu dari 10 tempat hehehehe

intinya, bisnis jangan ditopang properti…karena properti “liability” bukan assets….yang betul bisnis ditopang dengan emas batangan, selain “asset” emas juga penjaga “value”

Properti itu sama seperti Roti, klo bisa laku cepat .. ya untung, fresh enak macam roti abis dari oven….tapi kalau nggak laku-laku ya bossok, jamuran….emang sih bisa di daur ulang, tapi jadi TPH…Tempat Penginapan Hantu…

Yamaha nyinyir, Honda bias, Bajaj terlalu unik


Share pendapat aja tentang iklan iklan motor yang berseliweran di TV.

YAMAHA … diwakili oleh VEGA

Jujur, harusnya iklan-iklan Yamaha saat ini menurut saya sudah out of date. Kesuksesan merengkuh Market Share pesaing harus diiringi dengan membuat tema iklan baru yang tak lagi “nyinyir” ke kompetitor.

Karena sudah “clear target” harusnya jati diri dan keunggulan produknya lah yang dilambungkan. Konsumen harusnya di edukasi, apa keunggulan yang dimiliki Yamaha tapi tidak dimiliki pesaing. Bukan sekedar murah tapi tidak murahan atau yang lain semakin ketinggalan atau hanya menjual Lorenzo … iya kalau Juara … masak ngimpi-nya runner up terus…kan bertolak belakang dengan tag line nya yang semakin di depan to?

Itu penilaian JUPe (Juru Parkir) dan dibawah ini JUPe copykan dari majalah MIX … monggo

HONDA … diwakili sama SCOOPY

Yup…Honda kayaknya sudah menyadari betul bahwa “image” bapak-bapak sudah melekat sangat di brandnya. Tapi ya itu lho … terlalu banyak public figur yang dijadikan brand ambassador jadinya agak susah juga komunikasinya. Jadinya…iklan tiap produk tu menjadi bias … seakan-akan bukan motornya yg ditonjolkan,  iklan malah jadi video clip Baca lebih lanjut

Jualan Motor Tambah Eddyan


Nggak pernah ada jualan yang se-edyan jualan motor. Secara matematika, DP Rp.0 aja sudah eddyyan …. eee lha kkok sekarang dealer berani rugi dengan ngasih hadiah yang nilainya lebih besar dari DP

Katakanlah jika saya orang yang nggak peduli dengan “BI Checking” pada saat yang bersamaan, saya juga membutuhkan laptop…Nah..itukan sama saja beli laptop seharga 1 juta plus bonus sewa Sepeda Motor selama 1 – 2 bulan…..byoh..byoh..byoh

Marketing emang kadang nggak bisa dilogika

Bedah Yamaha Byson (1): Kondomnya tren atau blunder ya?


Saluto….salut untuk Yamaha yang berani membuat terobosan meski sangat beresiko

Yamaha Byson telah membuat terobosan untuk desain sepeda motor CKD…inget bro CKD dalam negeri. Emang sih sudah banyak aksesoris kondom untuk motor-motor sport lain, macam V-ixion.

Perbedaan kondom Byson adalah struktur tanki asli sebelum di-kondom-in. Yang bikin saya takut, setelah melihat langsung material kondom yang (kayaknya) terbuat dari fiber dan plastik….adalah persepsi Masyarakat bahwa ini motor murahan karena tangki-nya tidak terbuat dari besi….nah lho… Baca lebih lanjut