Arsip Tag: Sejarah

Bus Robur, Bis Roti Pengganti Trem Masa Presiden Soekarno.


image

Dahulu di Jakarta, alat Transportasi massalnya adalah trem. Semasa pemerintahan kolonial Belanda sampai masa kemerdekaan era Bung Karno.
Dalam Buku ‘Kisah Betawi Tempo Doeloe: Robin Hood Betawi’ karya Alwi Shahab menyebut, trem awal dikenalkan pada tahun1869 dengan trem kuda, berupa kereta panjang yang memuat 40 penumpang.

Baca lebih lanjut

124 Tahun Migrasi Bangsa Jawa ke Amerika Selatan.


image

9 Agustus 1890 – 9 Agustus 2014. Bulan Agustus menjadi bulan yang sakral bagi orang Jawa di Suriname, Amerika Selatan.

Pada bulan inilah, 124 tahun yang lalu nenek moyang mereka dibawa oleh Belanda untuk bekerja di Suriname. Dari bumi belahan timur, mereka dibawa ke sebelah barat, sebuah perjalanan panjang dan jauh.

Sungguh pastilah sangat berat bagi para leluhur orang Jawa untuk berpisah dari tanah kelahiran, sanak saudara dan kerabat untuk selamanya. Prinsip hidup bangsa Jawi terpaksa harus dilanggar, mangan ora mangan sing penting mlumpuk bareng sedulur.

Satu seperempat abad telah berlalu, semoga sedulur jawa di sana diberi keberkahan hidup.

Berikut galeri foto diaspora orang Jawa ke Suriname

image

image

image

Kisah Presiden Soeharto tak mau naik haji dibiayai negara


0

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Menteri Agama Suryadharma Ali (SDA) sebagai tersangka korupsi penyelenggaraan haji tahun 2012-2013. Diduga ada permainan menggelembungkan proyek katering, pemondokan dan transportasi sehingga biaya haji menjadi mahal.

Diduga, ada sejumlah anggota DPR dan keluarga Suryadharma Ali ikut dalam rombongan haji bersama Menteri Agama. Mereka menggunakan fasilitas negara untuk naik haji.

“Ada keluarga menteri juga, menteri SDA. Keseluruhan tidak ingat lagi, tapi kurang lebih di bawah 100,” kata Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas Gedung KPK Jakarta, Jumat (23/5)

Fakta yang dibeberkan KPK ini membuat miris. Jika menengok sejarah, ada kisah menarik saat Presiden kedua RI Soeharto dan keluarganya naik haji. Walau menjadi orang paling berkuasa saat itu, Soeharto tak mau dibayari negara.

soehartno naik hajisumber foto: berita.plasa.msn.com

Tahun 1991 Presiden Soeharto bersama keluarga pergi menunaikan ibadah haji. Karena berhaji urusan pribadi, Soeharto menolak dibiayai negara. Dia juga tak mau Departemen Agama repot-repot mengurusi kepergiannya.

Seluruh Paspampres yang ikut dan rombongan pendukung pun dibiayai oleh Soeharto.

Reporter Senior TVRI DR Sutrimo meliput langsung momen Soeharto naik haji. Dia pun menuliskan pengalamannya dalam buku 34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto terbitan UMB Press tahun 2013.

Walau naik haji bukan sebagai kepala negara, nyatanya kehadiran Presiden Soeharto tetap mendapat sambutan meriah para jamaah haji yang datang dari seluruh dunia.

“Sewaktu Pak Harto melempar jumrah, banyak kaum Muslimin melambaikan tangan dan mengelu-elukan Pak Harto dengan berteriak Assalamu’alaikum Rois Indonisi, Assalamu’alaikum Rois Indonisi,” kata Sutrimo.

Rois Indonisi artinya pemimpin dari Indonesia. Mereka menghormati Soeharto sebagai pemimpin dari negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Jika benar kini para pejabat Indonesia mengkorupsi dana haji, sungguh memalukan sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar. Setelah sarung, Alquran, haji pun tak lepas dari bagi-bagi proyek dan aji mumpung.

sumber: MERDEKA.COM

Sekilas Perang Puputan Bayu, Kabupaten Banyuwangi


Salah satu perang bersejarah dalam perjuangan melawan kolonial, tapi luput dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. klik “view original” untuk membaca di sumber aslinya

Pusaka Jawatimuran

Disusun oleh: Hasan Ali
Ketua Dewan Kesenian Blambangan

1. PENGANTAR

(Bahasa Using: puput = habis; Puputan Bayu = Perang habis-habisan di Bayu).
Perang   Puputan Bayu adalah peperangan yang terjadi antara pasukan VOC Belanda  dengan pejuang-pejuang Blambangan pada tahun 1771-1772 di bayu (Kecamatan Songgon sekarang). Peperangan ini oleh fihak Belanda sendiri diakui sebagai peperangan yang paling menegangkan, paling kejam dan paling banyak memakan korban dari semua peperangan yang pernah dilakukan oleh VOC Belanda di manapun di Indonesia (Lekkerkerker, 1923 : 1056). Di fihak Blambangan, peperangan ini merupakan peperangan yang sangat heroik-patriotik dan membanggakan, yang patut dicatat, dikenang dan dijadikan suri tauladan bagi anak cucu kita dalam mencintai, mcmbela dan membangun daerahnya, Bumi Blambangan.

Dalam Perang Puputan bayu tersebut pejuang-pejuang Blambangan dipimpin oleh Rempeg, yang kemudian dikenal dengan nama Pangeran Jagapati, seorang buyut Pangeran Tawang Alun, putra Mas Bagus Dalem Wiraguna (Mas Bagus Puri) dengan ibu dari desa Pakis, Banyuwangi (Pigeaud, 1932:…

Lihat pos aslinya 2.530 kata lagi

Sunan Samudera mendapat gelar Kalijaga #1


kalijaga
Para sunan penguasa wilayah di kesatuan Demak telah berkumpul, dari ujung barat penguasa cirebon sampai penguasa Ampel. Abdullah Ibrahim sekarang telah menjadi Sunan Ampel menggantikan Maulana Malik Ibrahim yang telah wafat.

Berdasarkan musyawarah para sunan, serbuan ke Demak kali ini akan dipimpin oleh Sunan Giri dan markas komando dipusatkan di Keraton Giri, Kedaton, Gresik.

Berdasarkan usulan Panglima dari Turki, kali ini serangan pada Majapahit akan dilakukan pada dua sisi. Daratan dan sungai. Lalu ditunjuklah Raden Mas Said sebagai pemimpin pasukan yang akan menyerang dari sungai.

Said bukan orang sembarangan. Lahir di Tuban dan besar di Jepara telah menempa dirinya sebagai anak laut yang tangguh. Sejak kecil telah terbiasa hidup di atas air mengarungi samudera.

Setelah dewasa dirinya tumbuh menjadi kapten kapal perang yang tangguh dalam melindungi perairan jawa dari para perompak laut. Para awak kapal yang merasakan jasanya ini kemudian menjulukinya Sunan Samudera.

Begitu mendapat tugas untuk turut serta menyerbu Majapahit ini, samudera langsung bersemangat. Apalagi tugas juga tetap di atas air, sungai dan lautan bagi samudera adalah sama.

Samudera meminta waktu 30 hari untuk memetakan aliran sungai yang menuju ke Daha. Selama itu dia menelusuri aliran sungai Brantas dan anak sungainya dengan sampan seorang diri.

Dia mencatat dengan cermat setiap detil sungai. Desa, daratan, bahkan sampai hutan bambunya. Dia tidak ingin rombongan kapalnya menjadi sasaran empuk prajurit Majapahit dari darat.

Dengan pakaian dan nama samaran, dia akan turun ke desa-desa di pinggir sungai. Mendata dan menyapa penduduknya untuk mengetahui apakah mereka masih loyal kepada Majapahit atau tidak.

Penduduk desa di pinggiran sungai menyapanya dengan Orang Jaga Kali. Sedang beberapa orang yang melihatnya sholat di atas sampan menyebutnya Kyai Kalijaga.

Sejak kepindahan Ibukota Majapahit dari Trowulan ke Daha Kediri, secara drastis telah kehilangan kemampuan maritim. Meski di beberapa tempat ada penjagaan, tapi sangat mudah dikelabui. Samudera kemudian sukses mencapai Kediri.

Ketika pulang dan sampai di Giri untuk melaporkan temuanya di panglima tertinggi. Julukan Kalijaga telah sampai lebih dulu di Giri Kedaton. Dalam setiap musyawarah para sunan dalam menyusun strategi serbuan ke Majapahit, dirinya sekarang dipanggil Kalijaga.

Kalijaga kemudian memimpin pembuatan perahu perang yang lebih kecil agar bisa leluasa dalam berlayar dan bermanuver di aliran sungai Brantas. Kerajinan kayu memang salah satu keahlianya.

Kapal tersebut bisa mengangkut 30 pasukan, 14 pendayung, 4 meriam masing-masing dua di kanan dan dua di kiri. Total ada 10 kapal yg dibuat, semuanya berlayar dengan formasi jajar dua. Tapi hanya ada 6 kapal saja yg berisi pasukan, sisanya hanya sebagai kamuflase

….. bersambung
petikan novel Perang Jawa-buku saya. 😉

Keindahan Majapahit: Sketsa Negarakertagama #8


Sketsa-sketsa ini bukan karya saya, ini berasal dari FB group pecinta sejarah Majapahit (Klik di sini) . Hak karya cipta dimiliki oleh Sdr. Tjahja Tribinuka (Alamat FB-nya)

Negarakertagama pupuh8

majapahit 11. Tersebut keajaiban kota: tembok bata merah, tebal tinggi, mengitari pura. Pintu barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit. Pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam. Di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda jaga paseban.

majapahit sketsa 22. Di sebelah utara, bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir. Di sebelah timur, panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat. Di bagian utara, disebelah pasar, rumah berjejal jauh memanjang sangat indah. Di selatan jalan perempatan, balai prajurit tempat pertemuan tiap caitra.

majapahit 33. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah menghadap padang watangan. Yang meluas ke empat arah: bagian utara, paseban pujangga dan menteri. Bagian timur, paseban pendeta Siwa-Budha, yang bertugas membahas upacara. Pada masa gerhana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.

majapahit 44. Di sebelah timur, pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil siwa. Di selatan, tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat menghadap panggung korban. Bertegak di halaman sebelah barat; di utara, tempat Budha bersusun tiga. Puncaknya penuh berukir; berhamburan bunga waktu raja turun berkumpul.

majapahit 55. Di dalam, sebelah selatan Manguntur tersekat dengan pintu, itulah paseban. Rumah bagus berjajar mengapit jalan ke barat, di sela tanjung berbunga lebat. Agak jauh di sebelah barat daya: panggung tempat bercengkrama para perwira. Tepat ditengah-tengah halaman, bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.

semoga bermanfaat, dan bisa menjadi cermin untuk kebanggaan kebesaran sejarah yang telah diukir nenek moyang kita.

Perang Jawa: Bantuan Turki menghancurkan Majapahit.


jawa moor dan china

Sunan Ngundung dan Amir Hamzah beserta sisa 35 pasukan tidak kembali ke demak, mereka berkemah di Lawu karena pantang pulang sebelum misi menaklukan Majapahit selesai. Demak kemudian mengirimkan lagi 7.000 pasukan untuk menuntaskan misi.

Di Majapahit, kemenangan terasa menyesakkan dada mereka karena tewasnya Panglima Gajah Sena. Dalam pertempuran kehilangan seorang jenderal lebih menakutkan daripada 1000 pasukan.

Brawijaya kemudian menyiagakan kembali pasukan dengan dipimpin sang putra mahkota Raden Gugur. Ini adalah sebuah blunder besar, menurunkan putra mahkota ke medan laga padahal musuh masih kuat.

Pertempuran kedua berlangsung, Majapahit kembali menang tapi Raden Gugur tewas di medan laga.

Di saat genting bantuan dari Kadipaten Wengker utusan Bathara Katong tiba. Pasukan Demak yang semula mengira mereka kawan menjadi kalang kabut karena wengker memilih membela Majapahit.

7.000 pasukan Demak akhirnya musnah ditumpas, Sunan Ngundung dan Amir Hamzah putera Sunan Wilis ikut tewas. Kabar kematian dua panglima berserta kekalahan kedua ini benar-benar membuat suasana Demak mencekam.

bendera majapahit

Masyarakat Demak diliputi isu bahwa kekalahan mereka karena melanggar wasiat Sunan Ampel agar jangan menyerang Majapahit. Mereka merasa sebagai umat yang durhaka, semangat tempur prajurit pun turun.

Karena Nusantara adalah pusat perdagangan dunia, berita kekalahan kedua Demak menyebar cepat ke seluruh dunia.

Di saat bersamaan Turki Ottoman (tahun 1500-1525) sedang gencar berekspansi di Timur Tengah  dan Asia.  Telah memiliki armada laut yang tangguh untuk bersaing dengan Bangsa Eropa memperebutkan sumber rempah-rempah.

Mereka mendapat hak eksklusif di samudra Hindia untuk melindungi rute pelayaranya. Ini adalah hadiah dari kerajaan Aceh karena Turki sponsor Aceh dalam perang melawan Batak.

Diplomasi erat Turki-Aceh inilah yang mampu membuat Aceh bertahan sampai tahun 1910. (Catatan Frederict De Houtman 1603M) Belanda baru berani menyerang Aceh saat Turki Ottoman sudah runtuh.

Melihat situasi Demak dan atas rekomendasi diplomasi Aceh serta semangat Pan Islamisme, Turki membantu Demak dengan mengirimkan pasukan dan ahli senapan dan meriam. Di kemudian hari Demak terkenal sebagai penghasil meriam terbaik di Nusantara.

meriam made in jawa

Bagi Turki, Demak sangat strategis untuk mengamankan pasokan rempah-rempah terkait persainganya dengan Portugis. Terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis tahun 1511 M.

Mughal di India yang tak pernah akur dengan Turki Ottoman tak mau kalah dalam mencari posisi keuntungan dalam perang Jawa. Mereka mengirim bantuan 50 ekor gajah perang.

Mughal sendiri tidak intens terlibat dalam perang karena pada saat yang sama mereka juga terlibat perang melawan Portugis dalam rebutan Goa dan Ceylon.

Semangat tempur pasukan Demak yang sempat surut karena takut kualat dengan wasiat Sunan Ampel kini tumbuh kembali melihat semangat jihad dalam diri pasukan bantuan asing.

Portugis mencatat ada sekitar 300 pasukan Turki bersenjata lengkap dalam barisan militer Demak. Melihat kekuatan Demak yang demikian kuat, Majapahit mencoba membuat aliansi dengan Portugis.

Dalam catatan Tome Pires bertahun 1512 M, Patih Udara dari Daha (Ibukota terakhir Majapahit) mengirimkan seperangkat gamelan dan kain batik pada penguasa Portugis di Malaka.

Kabar ini semakin menguatkan tekad Demak untuk menginvasi Majapahit. Semangat jihad dan anti Portugis membuat gelora Demak membara.

Dukungan pasukan multinasional dan artileri berat tercanggih di zamanya. Serbuan pamungkas Demak ke Majapahit ini seperti kisah film “The Last Samurai” dalam bayangan saya.

Sebuah peradaban agung bernama Majapahit yang mencoba bertahan dengan sisa-sisa kekuatan karena perang saudara, dihancurkan dengan meriam dan mesiu.

Lumrah bila di hari ini sangat susah menemukan warisan bangunan monumental dari peradaban Majapahit.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Artikel sebelumnya:
Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah

Lek-lek’an Malam Tahun Baru 2014 Sidorejo


mamba6Lek-lek’an itu bahasa sederhana dari begadang, cara nom-noman (anak muda) di desa saya dalam menyambut tahun baru. Bertempat di paseban karang taruna yang berhadapan dengan lapangan futsal tanah liat, klo lapangan terinspirasi Lapangan tenis Perancis Open. :mrgreen:

Acaranya sederhana, yang hobi nyanyi ya karaokean, yang enggak hobi ya cuma ngobrol ngalor ngidul, malah ada yg tidur :mrgreen: Sedang Acara puncaknya, mayoran, aka. Pesta makan-makan. No fireworks , no kembang api, tapi cuma mercon sisa lebaran kemaren. 😀 cuma 10 biji kok

Lalu menyantap basong (entog) yang dimasak para remaja putri dengan cara dioblog sampai hancurr. Sayangnya, saya cuma kuat sampai jam 11malam, pulang terus tidur, jadi gak ikut makan makan, maklum balung tuwek.

mamba2

Sing penting guyub rukun agawe sentoso, syukurlah pemuda di kampung saya ini termasuk kreatip dan menyalurkan jiwa mudanya pada hal hal positip. Tidak terpengaruh konflik dua SH yg mendarah daging di Madiun, tapi tetap ber-pencak dengan naungan Persaudaraan Rasa Tunggal.

Di bidang Olahraga punya dua lapangan, voli dan futsal yg aktif tiap sore. Di bidang seni juga punya grup hadroh yg cukup kondang dengan peralatan yg komplet, hawa murni.

mamba4

Karena kebetulan pembimbing spiritual di desa saya (KH. Suhaemi) itu juga gurunya Bupati Madiun periode sekarang, walhasil hubungan kami dengan pak bupati cukup akrab dengan kami. :mrgreen:

mamba5

Soal motor, anak-anak di desa saya lebih hobi freestyle daripada mrotoli motor apalagi ngalay dengan ban cacing.

mamba1

selamat tahun baru 2014, semoga semua harapan dan impian yang sempat tertunda di tahun kemaren bisa kita gapai di tahun ini.

Indonesia Bersatu seharusnya Bukan Karena Majapahit


Seberapa besar Majapahit akan selalu menjadi studi perdebatan panjang bagi anak negeri. Hal ini disebabkan karena luas wilayah NKRI didasarkan pada klaim daerah yang ditaklukan Majapahit.

Saudara sebangsa yang berada di luar jawa merasa bahwa bergabungnya mereka ke dalam NKRI adalah karena klaim pernah ditaklukan Majapahit. Bukan berdasarkan sukarela, cinta kasih dan satu perjuangan.

Wajar bila kemudian mereka mengemukakan pendapat bahwa nenek moyang mereka tidak lemah atau pernah dijajah, karena fakta sejarah terbaru membuktikan bahwa mereka juga penjelajah Nusantara yang tangguh.

Sejarah juga mencatat bahwa nenek moyang kita di timur ditindas lebih kejam daripada yang di Barat. Orang Banda bahkan ditangkap dijadikan budak belian dan tenaga kerja sampai mati untuk membangun Batavia. Fakta sejarah yang menghambat peradaban saudara di timur.

NKRI harusnya berdiri diatas sejarah bahwa kita terdiri dari suku bangsa yang tangguh, yang saling menginginkan persatuan serta saling toleran antar suku lainya. Bukan disuguhi sejarah bahwa nenek moyang kita saling berperang untuk meluaskan kekuasaan.

Lihat sejarah bagaimana indahnya Ternate-Aceh dan Demak membentuk aliansi (Aliansi Tiga) multi suku, bersatu padu menggempur Portugis. Tiga suku dari tiga pulau untuk satu tujuan.

Bila melihat ke era kerajaan kuno. Sejarah kita lebih banyak diisi konflik antar anggota suku terutama tentang hal tahta, bukan perang perebutan wilayah antar suku.

Kalau ada itu hanya satu buku yang menceritakan perang, yaitu negarakertagama tentang perluasan wilayah Majapahit. Tapi apakah buku itu sebuah dokumentasi atau sastra dongeng seperti kebanyakan kitab kuno jawa lainya?

Bila kitab negarakertagama masih diragukan keotentikanya, lalu kenapa kita menyandarkan alasan persatuan dan kesatuan NKRI pada teori penaklukan?

Alangkah indah bila kita ajarkan pada generasi masa depan, bahwa pulau-pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke bersatu jadi Indonesia karena meniru aliansi tiga kerajaan, Aceh-Demak dan Ternate.

Nenek moyang kita telah mengajarkan, bahwa untuk merdeka dan berdaulat kita harus bersatu.

Atau akui saja klaim sejarawan barat bahwa kita bersatu padu karena jasa Belanda menjajah kita, sehingga timbul rasa senasib seperjuangan.
image

Bonus gambar
image

Perang Jawa, Perang Besar Yang Luput jadi Pelajaran Sejarah


Dalam sejarah di belahan dunia mana pun, selalu terjadi perang antara masyarakat yang lebih maju peradaban dan yang lebih primitif. Ada dua model perang seperti ini, pertama pelakunya masih satu ras seperti suku Maya dan Aztec yang menindas suku-suku lainya, seperti di film Apocalypto.

apocalypto-7Yang kedua adalah model penjajahan seperti nasib bangsa Aborigin di Australia dan Indian di Amerika, serta juga suku Maya dan Aztec di tangan Spanyol. kualat!

Perang Jawa adalah perpaduan kedua model di atas, di satu sisi merupakan perang antara ras suku Jawa tapi di sisi lain ada infiltrasi dogma dan ideologi dari luar. Bisa juga disebut merupakan perang India ke-2, atau lanjutan perang India tapi terjadi diluar India.

Kondisi politik di Jawa tahun 1500masehi sedang terpecah menjadi dua kutub, utara dan selatan. Yang di pesisir utara sudah memeluk agama Islam yang dibawa para pedagang dari India dengan Demak sebagai representasi kerajaan. Sedang mereka yang di selatan masih tetap menganut Hindu dan tunduk pada Majapahit.

Secara ekonomi, tahun 1500 M adalah tahun kejayaan Kepulauan Nusantara. Nusantara menjadi penyuplai sekaligus pusat perdagangan komiditas dunia terpenting yaitu rempah-rempah. Nilai rempah-rempah saat itu seperti minyak bumi saat ini.

Dalam catatan Portugis bertahun 1480 M, pendiri Demak adalah orang Tionghoa Muslim bernama Cek Ko Po yang kemudian digantikan putranya yang bernama Pate Rodim. Walau berasas Tionghoa, Demak kemudian lebih akrab dengan kerajaan Mughal di India karena hubungan perdagangan dan ideologi agama. Ditambah lagi fakta bahwa Mughal selalu berusaha melebarkan kekuasaan ke wilayah China sebagai bagian dari wasiat Timurlenk. Dan mungkin juga karena ada pergantian Dinasti di China pada awal tahun 1500-an, Han ke Ming.

Keakraban Demak dan Mughal-India semakin mengental ketika perang salib berlangsung dan berlakunya embargo rempah-rempah ke Eropa. Jalur rempah-rempah pada masa itu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan Islam, mulai dari timur tengah sampai sebagai pemasar ke Eropa sampai India dan Nusantara sebagai sumber rempah-rempah.

Aksi embargo itulah yang akhirnya memaksa Bangsa Eropa berlayar mencari sendiri sumber rempah dan melakukan kolonialisasi.

jawa moor dan chinainteraksi antara orang Moor, Jawa dan China.

Mughal mewarisi semangat Timurlenk dalam menyebarkan Islam. (Masih ingat kan? atau klik di sini) Dinasti Islam India sebelum mughal, ditumpas habis oleh Timurlenk karena tidak terlalu agresif menyebarkan Islam pada penduduknya. Demak selalu mendapat provokasi dari Mughal untuk menyebarkan Islam ke seluruh Jawa, bila perlu Majapahit ditumpas sekalian.

Provokasi semakin gencar ketika Kesultanan Ottoman Turki juga mulai masuk ke Demak, Turki dan Mughal tidak pernah akur karena sejarah Timurlenk.  Mughal ingin terus menjaga kedekatan dengan Demak karenanya dia ingin tampil sebagai pahlawan dalam perluasan wilayah Demak.

Para sunan yang saat itu kedudukanya sebagai penguasa wilayah (setara gubernur), panglima perang sekaligus pemimpin spiritual sudah berkali-kali mengadakan musyawarah dan menyetujui untuk menyerang Majapahit. Tapi selalu saja kandas karena tidak mendapat restu dari ketua para sunan, yaitu Sunan Ampel, Maulana Malik Ibrahim.

Sunan Ampel yang berkuasa di Surabaya, selalu menolak usulan itu. Dia selalu beralasan bahwa Majapahit bukan negara harby yang mengobarkan perang ataupun menjadi ancaman pada Demak, lagipula di dalam kekuasaan Majapahit orang-orang Islam bisa hidup dengan damai, maka tidak ada pembenaran Syar’i untuk memeranginya.

“Jeng Sunan Ngampel mambengi, mring para wali sedaya, lawan putra sedayane, rehning prabu Brawijaya, among sesadyanira, mring para wali sedarum, pinadekkaken kewala”
(Sunan Ampel melarang semua para wali begitu juga semua putranya, karena Prabu Brawijaya menjaga para wali semuanya, membiarkan saja apa yang dilakukan para wali itu)
Sumber: Kitab Wali Sana – Babadipun Parawali yang bersumber dari Sunan Giri II. ditulis ulang dan diterbikan oleh Penerbit dan Toko Buku “Sadabudi” Solo, 1955

Setelah Sunan Ampel wafat, perang akhirnya tidak bisa dibendung lagi. Raden Fatah, Raja Demak saat itu yang sebenarnya putra mantu dan aslinya kelahiran Majapahit pun tak sanggup membendung nafsu perang.

Setelah musyawarah para Wali dan disetujui Raden Fatah, agresi pertama Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung dengan 7.000 pasukan dan 40 modin dengan wakil panglima Amir Hamzah putera Sunan Wilis.

Agresi militer yang pertama ini pecah perang di daerah Tunggarana.  Pasukan Demak dihadang 11.000 pasukan Majapahit yang dipimpin Panglima Gajah Sena. Walau akhirnya sukses menumpas Demak, tapi Majapahit kehilangan sang Panglima Gajah Sena.

Demak akhirnya mundur dengan pasukan tersisa cuma 35 orang, tapi Majapahit walau sepertinya menang tapi kehilangan panglima perang adalah pukulan telak bagi pertahanan kerajaan dalam menghadapi agresi militer kedua dari Demak.

Keputusan Demak berperang ini tidak serta merta ditaati oleh semua orang Islam di tanah Jawa. Bathara Katong yang berkuasa di Ponorogo (1485-1525M) menolak perang ini karena itu adalah melanggar wasiat Sunan Ampel. Di Agresi Militer ke II, Bathara Katong lebih memilih berperang dengan Majapahit melawan Demak.

(Bersambung ke link di bawah ini:

Perang Jawa: Bantuan Turki Menghancurkan Majapahit
*Untuk Artikel sejenis, bisa di klik di ping balik di kolom komentar, trims.

Daftar bacaan:
1. Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 1: Tanah di Bawah Angin, Pustaka Obor.
2.  Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga jilid 2: Jaringan Perdagangan Global, Pustaka Obor.
3. Sjamsudduha, Walisanga Tak Pernah Ada?, JP Books. (bersumber: serat drajat dan serat badu wanar)
4. Prof. Kong Yuanzhi, Cheng Ho: Muslim China, Pustaka Obor
5. Ratna S, H.Schulte, Perpektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Pustaka Obor
6. Agus Sunjoto, Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar, LKiS Jogja. (merujuk pada serat-serat caruban/cirebon)

Apa Makanan Pokok Kakek Nenek Moyang Kita dulu?


Iseng-iseng sambil ngobrol tentang sejarah peradaban bangsa, eh lha kok tiba-tiba topiknya bergeser ke “Apa makanan pokok bangsa Indonesia di zaman jaya dulu?” Eh emang sekarang enggak jaya ya? 🙄

1483300_487196201392911_1029411294_nMakanan pokok erat kaitanya dengan kejayaan sebuah bangsa, karena dia adalah energi yang menggerakkan individu/rakyat di sebuah wilayah untuk menghasilkan suatu karya. Nagh leluhur Bangsa Kita yang tercinta ini, baru kita ketahui sebatas kerajaan Kutai bertahun 300Masehi belum sampai ke tahun Sebelum Masehi.

Bila saat ini masyarakat mengkonsumsi beras tiga kali sehari, maka itu adalah murni hasil dogma dan doktrinisasi era Orde Baru. Di era tersebut, aneka makanan pokok selain nasi dari beras dikonotasikan sebagai makanan melarat, kismin, makanan penderitaan dll.

Padahal di era tersebut masyarakat jamaknya mengkonsumi Thiwul-Ketela dan Jagung sebagai makanan pokok. Jadi kalau sekarang Indonesia kekurangan beras karena masyarakatnya rakus nasi ya wajar. :mrgreen: naghh sekarang digalakkan gerakan “membenci” nasi beras.

P2KP1Jadi si beras bukan pangan lokal gitu? 🙄 aya-aya wae menteri dari PKS ini, terus klo sapi sukanya impor gitu

Lalu bagaimana dengan Ketela? Ketela Pohon dan Ubi Rambat?. Ketela Pohon berasalnya dari Amerika selatan, dikenalkan di Nusantara oleh Portugis pada abad ke-16 dari Brazil, ketika itu Brazil jadi ibukota Portugis.

Lalu pada tahun 1800-an, Belanda memaksa penduduk Nusantara untuk menjadikan Ketela sebagai bahan pokok dan menyerahkan padi-beras sebagai pajak ke Belanda.

Lalu bagaimana dengan Ubi Jalar/kereta jalar. Walau ada pendapat yg menyatakan berasal dari Papua, tapi teori yg populer di kalangan ahli tetap berpendapat bahwa asal muasalnya juga dari Amerika Selatan dan pelaku penyebaranya adalah Spanyol.

Lalu apa dong makanan pokok nenek moyang kita sehingga mereka bisa membangun monumen kemegahan seperti Borobudur?

Susu Sapi serta Bahan Olahan dari Susu, dan juga daging sapi.

borobudurRelief Sapi sebagai sumber kehidupan di Borobudur.

Sepertinya nenek moyang kita zaman dulu itu sudah bisa swasembada sapi. Minuman sehari-hari mereka adalah susu sapi, dan sarapanya pun pake keju dan mungkin yoghurt. Mereka juga mengkonsumsi daging sapi sebagai makanan pokok dan nasi sebagai makanan pendamping. Catat!, nasi sebagai lauknya, bukan sebaliknya. atau mungkin hanya mengkonsumsi nasi 1 kali sehari seperti di India.

Jadi!, mungkin mereka sarapan pagi dengan segelas susu segar dan keju. Lalu baru ketika makan siang menyantap nasi ()

Bandingkan jaman sekarang yang generasi mudanya malah minum oplosan :mrgreen: dan makan nasi dua piring tapi lauknya cuma secuil daging. 😦

Bukti betapa melimpahnya populasi sapi di masa dulu bisa dilihat dari tulisan yg ditinggalkan prasasti kerajaan Kutai di Kalimantan. Yang menceritakan kedermawanan Raja Mulawarman karena menyedekahkan 20.000 ekor sapi untuk kaum Brahmana. (lihat di wikipedia sejarah Kutai) atau disini (klik disini)

Bila mampu menyedekahkan 20.000 ekor sapi, berarti sang Raja Mulawarman punya lebih dari 20.000ekor sapi. Bila itu 10%nya  maka berarti sang Raja punya 200.000 ekor populasi di kerajaanya. Bila penduduk Kutai berjumlah 500-ribu jiwa berarti ada 1 ekor sapi untuk 2orang.

Dalam tradisi Hindu di India, daging sapi memang tidak dikonsumsi, tapi dalam tradisi Hindu di Nusantara sepertinya sapi tetap dikonsumsi seperti kasus di Bali, mungkin hanya kasta Brahmana saja yang mengikuti tradisi di India.

Secara hitungan ekonomis pada zaman tersebut, biaya membuat peternakan Sapi lebih mudah dan murah dibanding membuka hutan untuk membuat sawah dan ladang. Sapi juga tidak memerlukan saluran irigasi yg rumit. Jadi Sapi adalah sumber makanan yang murah dan mudah.

Kerajaan Kutai sendiri bertahun abad ke-4 masehi berarti sekitar tahun 300-an. Lalu bagaimana dengan populasi sapi di Jawa? Kurang lebih sama dengan di kerajaan Kutai-Kalimantan. Populasi Sapi hancur ketika Jawa terlibat perang besar berlandaskan ideologi agama abad ke 17M.

meriam made in jawa

Perang Aliansi kerajaan Islam vs Aliansi Kerajaan Hindu itu menghancurkan hampir semua sendi kehidupan di Jawa. Karena itu adalah perang pertama di Jawa yang memakai artileri mesiu, setelah perang Jawa seperti CPU komputer yang direstart. 😦

Demak pada masa itu mampu dan terkenal sebagai produsen aneka macam senjata berbahan mesiu, merian dan bedhil. Ditambah dengan bantuan amunisi, finansial dan kavaleri Gajah dari kerajaan Mughal di India. (dilanjut di artikel khusus mawon)

Walhasil, Sapi juga turut menjadi korban, bahkan mungkin yang terparah selain terbunuh juga sengaja dibunuh sebagai harta rampasan perang dan konsumsi prajurit. Karena pihak yang menang adalah masyarakat pesisir yang tidak faham peternakan sapi. Sejak itulah budaya budidaya sapi dan bahan olahan sapi musnah dari peradaban Nusantara.

Masyarakat pun kemudian hanya mengenal beras, gaplek, telo, jagung, thiwul dan aneka makanan lain yang dijejalkan oleh para penjajah untuk melanggengkan nafsu imperialisme, bukan makanan para leluhur kita.

Mungkin di alam sana, para leluhur kita menangis melihat anak cucunya harus mengemis-ngemis ngimpor sekarung ketela padahal mereka dulu bersusah payah menaklukan banteng-banteng liar agar menjadi sapi sebagai sumber bahan makanan.

peta-sejarah-nusantara

SEJARAH KI NGABEHI SOERODIWIRJO


EYang SURO dan istri

Ki Ngabehi Soerodwirdjo/ Masdan lahir pada hari Sabtu Pahing 1869, beliau adalah keturunan dari bupati Gresik. Ayahnya bernama Ki Ngabehi Soeromiharjo adalah manteri cacar Ngimbang-Lamongan yang memiliki 5 putera, yaitu: Ki Ngabehi Soerodwirjo (Masdan), Noto/Gunari (di Surabaya), Adi/ Soeradi (di Aceh), Wongsoharjo (di Madiun), Kartodiwirjo (di Jombang). Saudara laki2 dari ayahnya R.A.A Koesomodinoto menjabat sebagai bupati Kediri. Seluruh keluarga ini adalah keturunan dari Batoro Katong dari Ponorogo (Putra Prabu Brawijaya Majapahit).

Pada tahun 1883 beliau lulus sekolah rakyat 5 tahun, selanjutnya ikut saudara ayahnya Ki Ngabehi Soeromiprojo yang menjabat sebagai Wedono Wonokromo kemudian pindah sebagai Wedono Sedayu-Lawas Surabaya. Saat berumur 15 tahun beliau magang menjadi juru tulis Op Het Kantoor Van De Controleur Van Jombang, disana sambil belajar mengaji beliau juga belajar pencak silat yang merupakan dasar dari kegemaranya untuk memperdalam pencak silat di kemudian hari.

Pada tahun 1885 beliau magang di kantor Kontroleur Bandung, dari sini beliau belajar pencak silat kepada pendekar2 periangan/pasundan sehingga didapatlah jurus2 seperti: Cimande, Cikalong, Cipetir, Cibaduyut, Cilamaya, Ciampas, Sumedangan.

Pada usia 17 tahun (1886) beliau pindah ke Batavia/ Jakarta, dan memanfaatkan untuk memperdalam pencak silat hingga menguasai jurus2: Betawen, Kwitang, Monyetan, Permainan toya (stok spel).

eyang suro2sumber foto: http://www.shterate.com

Pada 1887 beliau ikut kontrolir belanda ke Bengkulu, disana beliau belajar gerakan2 mirip jurus2 dari Jawa barat. Pertengahan tahunnya ikut kontroler belanda ke Padang, dan bekerja tetap pada bidang yang sama. Didaerah Padang hulu dan hilir beliau mempelajari gerakan2 yang berbeda dari pencak Jawa. Selanjutnya beliau berguru kepada Datuk Raja Betuah seorang pendekar dan guru kebatinan dari kampung Alai, Pauh, kota Padang. Pendekar ini adalah guru yang pertama kali di Sumatera Barat. Datuk Raja Betuah mempunyai kakak bernama Datuk Panghulu dan adiknya bernama Datuk Batua yang ketiganya merupakan pendekar termasyur dan dihormati masyarakat.

Pada usia 28 tahun beliau jatuh cinta kepada seorang gadis padang, puteri seorang guru ilmu kebatinan yang berdasar islam (tasawuf). Untuk mempersunting gadis ini beliau harus memenuhi bebana, dengan menjawab pertanyaan dari sang gadis pujaan yang berbunyi “SIAPAKAH MASDAN INI” dan “SIAPAKAH SAYA INI”. Karena tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan pikiranya sendiri maka beliau berguru kepada seorang ahli kebatinan bernama Nyoman Ida Gempol yaitu seorang punggawa besar kerajaan bali yang dibuang belanda ke padang. Ia dikenal dengan nama Raja Kenanga Mangga Tengah (bandingkan dengan nama desa Winongo-Madiun-Tengah-Madya). Dari sini Ki Ngabehi mendapat falsafah TAT TWAM ASI(ia adalah aku).

Kemudian pada tahun yang sama beliau belajar pencak silat selama 10 tahun kepada pendekar Datuk Raja Batuah dan mendapat tambahan jurus2 dr daerah padang, antara lain: Bungus (uit de haven van teluk bayur), Fort de Kock, Alang-lawas, Lintau, Alang, Simpai, Sterlak. Sebagai tanda lulus beliau mempersembahkan pisungsun berupa pakaian hitam komplit.

Selanjutnya ilmu yang diperoleh dari Nyoman Ida Gempol disatukan dengan pencak silat serta ilmu kebatinan yang diperoleh dari Datuk Raja Batuah sehingga menjadi aliran pencak silat baru yang nantinya oleh Ki Ngabehi Soerodiwirjo dinamakan SETIA HATI.

Akhirnya bebana yang diminta gadis pujaan beliau dapat dijawab dengan ilmu dr setia hati diatas dan gadis itu menjadi istri beliau, tetapi dari perkawinan ini belum mempunyai keturunan.

Pada usia 29 tahun beliau bersama istrinya pergi ke Aceh dan bertemu adiknya yang bernama Soeradi yang menjabat sebagai kontrolir DKA di LhoukSeumawe, didaerah ini beliau mendapat jurus kucingan dan permainan binja. Pada tahun tersebut guru besar beliau Raja Kenanga Mangga Tengah diizinkan pulang ke bali. Ilmu beliau dapat dinikmati saudara2 SH dengan motto “GERAK LAHIR LULUH DENGAN GERAK BATIN” “GERAK BATIN TERCERMIN OLEH GERAK LAHIR”.

Tahun 1900 Ki Ngabehi kembali ke betawi bersama istrinya dan beliau bekerja sebagai masinis stoom wals. Kemudian beliau bercerai, dimana ibu Soerodoworjo pulang ke padang dan beliau ke bandung.

Tahun 1903 KiNgabehi kembali ke Surabaya dan menjabat sebagai polisi dienar hingga mencapai pangkat sersan mayor. Di Surabaya beliau terkenal dengan keberanianya menumpas kejahatan, kemudian beliau pindah ke ujung dimana sering terjadi keributan antara beliau dengan pelaut2 asing.

eyang suro makam

Pada tahun ini beliau mendirikan persaudaraan SEDULUR TUNGGAL KECER (STK) -LANGEN MARDI HARDJO (Djojo Gendilo) pd Jum’at legi 10 Suro 1323 H / 1903M. Tahun yang diklaim sebagai hari lahirnya SH Winongo, dan mengklaim mewarisi ilmu langsung dari eyang suro, sering mengklaim diri sebagai STK -Sedulur Tunggal Kecer.

Pada tahun 1905 untuk kedua kalinya beliau melangsungkan pernikahan yaitu dengan ibu Sarijati yang saat itu berusia 17 tahun, dari pernikahan ini mendapatkan 3 orang putra dan 2 orang putri dimana semuanya meninggal sewaktu masih kecil.

Beliau berhenti dari polisi Dienar (1912) bersamaan dengan meluapnya rasa kebangsaan Indonesia yang dimulai sejak tahun 1908. Beliau kemudian pergi ke Tegal ikut seorang paman dari almarhum saudara Apu Suryawinata yang menjabat sebagai Opzichter Irrigatie.

Tahun 1914 beliau kembali ke Surabaya dan bekerja pd DKA Surabaya, selanjutnya pindah ke Madiun di Magazijn DKA dan menetap di desa Winongo, Madiun.

Persaudaraan DJOJOGENDILO CIPTO MULJO diganti nama menjadi Persaudaraan “Setia Hati” Madiun pada tahun 1917. Tahun 1933 beliau pensiun dari jabatanya dan menetap di desa Winongo, Madiun.

Tahun 1944 beliau jatuh sakit dan akhirnya wafat pada hari jum’at legi 10 Nov 1944 jam 14.00 (bulan Selo tanggal 24 tahun 1364 H) di rumah kediaman beliau di Winongo, dan di makamkan di pasarean Winongo degnan Kijing batu nisan granik dan dikelilingi bunga melati.

Pesan beliau sebelum wafat :

Jika saya sudah berpulang keRahmatullah supaya saudara2 SH tetap bersatu hati, tetap rukun lahir batin;
Jika saya meninggal dunia harap saudara2 SH memberi maaf kepada saya dengan tulus ikhlas;
Saya titip ibunda Nyi Soerodiwirjo selama masih hidup di dunia fana ini;
Al-Qur’an Surat Yasin ayat 1 & 58.A

Artikel lain tentang SH :

SH Panti
SH Terate (masih proses)
SH Tunas Muda Winongo (proses)
Melacak Akar Permusuhan Saudara Seguru (Proses)

Inilah Piramida di Indonesia yang Masih Utuh dan Nyata


Piramida Itza

Menarik sekali mengamati reributan kaum arkeolog dan penikmat sejarah tentang ada tidaknya Piramida di beberapa gunung di Jawa Barat. Terutama kasus Sadahurip.

Tentang benar ada tidaknya Piramida disana, biarlah waktu yang menjawab. Saya cuma aneh saja, saat membaca kompas.com. Terkait pernyataan berikut:

Arkeolog Dr Bambang Sulistyanto menyatakan bahwa kemungkinan temuan piramida di Gunung Sadahurip, Kabupaten Garut, dari aspek arkeologi tidak masuk akal karena Indonesia tidak mengenal kebudayaan piramida

Saat masih menjadi sopir rental plus guide di Jogja dulu. Candi satu ini selalu masuk daftar menu saya, walaupun menu “kota-kota” di kawasan Solo nggak tercantum tempat ini.  Baca lebih lanjut

Agresi Militer Islam (2): Walisongo, Panglima Perang Berjumlah Sembilan


Pada akhir abad 15 (akhir 1400M) kekuatan Majapahit telah rapuh, bahkan pengaruhnya didaerah pesisir utara jawa sudah punah. Penguasaan pada bandar-bandar perniagaan sudah absen. Pusat kerajaan juga terdesak jauh ke dalam Pulau Jawa (Daha-Kediri).Sirna Hilang Krtaning Bhumi … Hilang ke dalam perut bumi. (terj. lain:Hilangnya kerajaan Bre Kerthabumi)

Di daerah kosmopolitan niaga seperti Banten, Gresik, Demak dan pesisir utara jawa. Image, Orang Majapahit pada era tersebut tak ubahnya kaum primitif di pedalaman.

Ilustrasi yang dilukis oleh saudagar Denmark J.P. Cortemunde tahun 1673. Tentang gambaran orang Moor Islam (Arab/India/Persia), Jawa dan China.

Baca lebih lanjut

Ayoo (Bantu) Boikot Sinetron Tutur Tinular v.2012


Ini bukan perkara agama, atau tentang apakah anda nge-fans sama Arya Kamandanu atau kangen sama Mei Shin ataupun sedang selingkuh. Tapi ini tentang pembodohan sejarah secara massive lewat pemblinger’an cerita yang sak penak’e dewe.  Baca lebih lanjut

Agresi Militer Islam (4): Friksi Pertama Islam di Jawa


ilustrasi kerajaan sunda-galuh … sumber:kaskus.us

Setelah wafatnya Sultan Trenggana asal Demak Bintoro, yang sukses menyatukan seluruh wilayah (suku) Jawa dalam satu kerajaan Islam dan mendapat legitimasi daripada para Wali/Sunan.

Mulailah muncul friksi antara umat Islam sendiri. Terutama sekali menyangkut faham kemurnian Islam dan fanatisme Jawa. Sejarawan barat menyebutnya sebagai Islam kejawen vs Islam Asketis.

Perbedaan ini muncul dari proses ber-islam. Masyarakat di pesisir Utara, yang berada dipusat perdagangan global, lebih terbuka untuk menerima Islam secara utuh dan meninggalkan segala adat-istiadat Jawa. Baca lebih lanjut

Agresi Militer Islam (I): Dahsyatnya Agresi Penyebaran Islam di Indonesia


Membaca buku sejarah di bangku-bangku sekolah, seringkali proses tersebarnya Islam di”suci”kan teorinya oleh para penulisnya. Jelas tertulis bahwa Islam tersebar di Nusantara karena teori perdagangan dan hanya dakwah semata, terutama berkaitan dengan legenda walisongo.

Islam sebenarnya sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 654, saat khalifah ke-3 Ustman Bin Affan membentuk armada laut pertama dalam sejarah Islam, dan mengutus para diplomatnya ke segala penjuru dunia termasuk Javadwipa. Baca lebih lanjut

Korea Utara (I): Kebudayaan, Seni, dan Hiburan yang dipaksakan


Salah satu video favorit saya di youtube adalah pertunjukan musik anak-anak korea utara. Dalam balutan pakaian nasionalisme, patriotisme … dengan senyum di wajah, mereka begitu bangga tampil di panggung kehormatan.

Penampilan anak-anak korut dalam dua video dibawah ini seperti menampar kesadaran budaya dan kebutuhan hiburan saya sebagai bangsa Indonesia ….  Baca lebih lanjut

Moammar Khadafi Tewas … Nasib Kolonel Ngeyel


Dalam era neo-kolonialisme, pemimpin negara yang anti dengan perusahaan asing harus dibunuh. Presiden yang sukses menasionalisasikan perusahaan asing yang telah merampok negeri … harus diinvasi, digantung, ditembak mati, dikudeta, diracun … pokoke modarr

Yup, dan begitulah nasib yang akhirnya menimpa Kolonel Moammar Gaddafy. Mati!, Tewas!, Meninggal! di tanah negaranya sendiri, Libya. Padahal dia yang telah memakmurkan rakyatnya, membebaskan mereka dari kebodohan (pendidikan gratis coyy), mengentaskan dari kemiskinan selama era Dinasti Idris dimana minyak hanya dinikmati keluarga kerajaan dan perusahaan-perusahaan asing.

Indonesia juga sudah pernah memiliki pemimpin seperti Gaddafy, bahkan lebih heroik lagi … Ir. Ahmad Soekarno. Bapak proklamator kita itu pun juga bernasib sama seperti Gaddafy. Mati karena konspirasi dan setelah kematianya, usaha beliau untuk menasionalisasikan perusahaan pertambangan untuk kepentingan rakyat sirna.

Dan rezim-rezim sesudahnya, menghalalkan bumi pertiwi untuk terus menerus dirampok … macam freeport laghh. 😈  Baca lebih lanjut

TIMURLENK, Generasi Mongol Penyebar Islam (III)


Disaat banyak ulama muslim menghujat kebengisan Timurlenk, Ibnu Khaldun salah seorang ulama ternama muslim, malah memuji Timurlenk dengan mengatakan “Disaat banyak pemimpin muslim terlena oleh harta dan melupakan penyebaran Islam, Timurlenk datang meneruskan kerja penyebaran Islam”

Orang Mongol satu ini memang terus menjadi kontroversi dalam sejarah, terutama bagi yang tidak memahami kondisi sosial dunia Arab abad pertengahan. Arab pada masa itu telah kembali ke dalam apa yang disebut masa “jahiliyyah”. Islam sudah tidak lagi dijunjung, melainkan diinjak-injak atas nama keluarga, kesukuan, madzhab dan demi kekuasaan. Hal inilah yang menanamkan kebencian nyata dalam diri Timurlenk pada ras Arab dan selalu menjaga ke-steril-an pasukannya dari orang Arab.  

Baca lebih lanjut

Mongol, Pasukan Kiriman Tuhan (II)


Ada sebuah hadist yang isi-nya menerangkan suatu ancaman, bahwa jika suatu negeri telah lupa akan perintah-perintah agama akan didatangkan/dibangkitkan pemimpin yang dzolim dan bengis. opo ngono? … karena ilmu hadist saya yang lemah saya kurang tahu essensi-nya yang asli. 😉

Lanjutan dari Mongol, Bangsa Penyebar Islam (I)

Masa-masa akhir Dinasti Abbasyiah adalah masa kesesatan, jauh dari apa yang disebut akhlaqul Islamiyah. Perbudakan manusiawi dan secara bertahap mulai dihapuskan oleh Rasulullah dan sahabatnya, malah kembali dilestarikan pada masa ini dengan perbudakan yang tidak manusiawi. Perdagangan yang jujur sudah tidak ada lagi, bahkan pedagang asal Baghdad terkenal akan kelicikanya pada masa itu. Menarik “jizyah” (upeti) seraya mengancam akan membumi hanguskan. dll  Baca lebih lanjut

Mongol, Bangsa Penyebar Islam yang terlupa (I)


Selama ini Islam seringkali identik dengan Arab, mulai dari peradaban sampai penyebar Islam pun, nggak afdhol klo nggak melibatkan Arab. Baik orang maupun budaya-nya. Hingga seringkali terjadi penafikan pada sumbangsih bangsa lain terutama dalam penyebaran Islam.

Cukup mengherankan, bahwa dalam konteks kekinian, kita seringkali tertipu dengan hal-hal yang berbau Arab bahkan kemudian menyakralkan seorang tokoh, hanya karena berwajah arab dan meyakini sebagai keturunan penyebar Islam. Padahal jelas dalam sejarah, bahwa pembawa Islam ke Indonesia lebih didominasi orang-orang China (Cheng Ho), India (dibuktikan dengan gelar “maulana”) , Persia (perdagangan) dan Mongol.

Jika membaca sejarah, selama ini Bangsa Mongol sering identik sebagai penghancur kejayaan dinasti Abbasyiah di Baghdad. Padahal sumbangsih Bangsa Mongol terhadap Islam jauh lebih besar dari apa yang pernah mereka hancurkan. Baca lebih lanjut

Refleksi 17-an: Perang itu menghasilkan Nasionalisme sempit


Bagi generasi yang lahir di orde baru, pasti akrab dengan film-film heroik tentang perang kemerdekaan. Ada janur kuning, kereta terakhir, joko sembung, jaka petir, si buta dari goa hantu, samson dan lain-lain. Seringkali digambarkan betapa kejamnya Pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Tapi anehnya, mbah kakung saya selalu ngomong. Film bohongan kok ditonton!. Waktu masih kecil, petuah beliau itu tidak terlalu saya gugu, tapi setelah sekarang mengajar sejarah. Tiba-tiba saya teringat kembali petuah itu. Apalagi setelah nonton bareng Janur Kuning bareng anak-anak didik.

For Who we got war? … For What that war? … n what freedom for? Baca lebih lanjut

Gulingmu si Pelacur Warisan Belanda


ini adalah artikel dari majalah-historia.com sengaja disajikan ulang untuk lebih mempopulerkan website yang menurut JUPe sangat-sangat buagus, karena menyingkap sejarah yang selama ini nggak pernah diajarkan dibangku sekolah. Monggo dibaca dan dinikmati, awass jangan ngecesss

 

Siapa Peluk “Istri Belanda”
Kamis, 17 Maret 2011 – 22:53:23 WIB

Kehadirannya di ranjang bikin nyaman dan sejuk, sebanding dengan peran seorang istri atau penyejuk udara (AC).


SETIAP malam, sebagian dari kita terbiasa tidur dengan memeluk “istri Belanda” (Dutchwife) alias guling. Tanpanya tidur tak terasa nyaman. Tapi di masa lalu, tak semua orang bisa memilikinya. Hanya kalangan atas atau priyayi. Kisah dalam novel Jejak Langkahkarya Pramoedya Ananta Toer, menyentil kebiasaan itu. Baca lebih lanjut

Kota Madyan Kaum Tsamud … Hancur Karena Suara Supersonic


Kota ini terletak di Gurun Al-Ula antara Madinah al-Munawwaroh dan Tabuk di Arab Saudi, dan terlarang bagi umat muslim. 🙄

Dari kejauhan hanya nampak goa-goa, tapi begitu di zoom. Gunung Batu utuh diukir menjadi rumah, layaknya Petra di Jordan, tapi yang ini lebih spektakuler!

Kisah Nabi Saleh telah diceritakan dengan 72 ayat dalam 11 surah di antaranya al-A’raaf, ayat 73 hingga 79, dan  surah al-Qamar ayat 23-32. Naghh, di ayat 32 surah al-Qamar itulah disebutkan tentang Azab apa yang ditimpakan pada Kaum Madyan.  Baca lebih lanjut